Dakwah yang Membumi - Srengenge Online

Breaking

loading...

Ketik tulisan yang anda cari disini

Friday, December 4, 2015

Dakwah yang Membumi



Da'wah Yang Membumi

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
(QS. Ibrahim, ayat 4)

Menurut KBBI (kamus Besar Bahasa Indonesia) Dakwah adalah penyiaran; propaganda  agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama. Tujuan Dakwah dalam artian sederhana adalah supaya orang yang diajak mau mengikuti sang Dai (pendakwah). Dakwah juga bukan sedekar menyampaikan, akibat salah dalam menyampaikan isi dakwah bisa membuat orang bukannya ikut dengan ajakan dai tetapi malah lari darinya. Terus apa gunanya berdakwah kalau yang di ajak malah lari?

Salah satu fenomena yang berkembang di dunia dakwah yaitu Da’i yang gemar memvonis “sesat”, Bid’ah” dan “kafir” pada orang atau kelompok diluar kelompoknya. Dari fenomena itu akhirnya muncul gerakan gerakan Islam garis keras yang menghalalkan segala cara agar tujuannya bisa terwujud, salah satu contohnya adalah perilaku bom bunuh diri.

Harus di pahami juga bahwa dakwah adalah aktivitas yang selalu berproses, seorang da’i harus berfikir luas dan berani keluar dari jeruji elitisme dan ekslusifme. Tidak mengapa kita belajar dari model dakwah walisongo, Jika pada waktu itu walisongo mampu diterima dan menembus akar rumput masyarakat, kenapa sekarang banyak juru dakwah sangat sulit melakukannya, terutama juru dakwah yang mengusung jargon “kembali ke Al Quran dan as sunnah”.        

Rujukan utama cara Berdakwah kita adalah Rosullulah SAW, Ketika mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa Al Asy’ari RA  untuk berdakwah ke Yaman, beliau (Muhammad SAW) menyampaikan pesan emas kepada kedua sahabat tersebut: 

Berilah kemudahan dan jangan mempersulit, Berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari..” (HR Bukhari dan Muslim).

Meskipun pesan tersebut singkat, namun maknanya sangat luas dan mendalam. Disebutkannya “jangan mempersulit” sebagai antonim setelah “berilah kemudahan”, memberikan faidah penegasan, bahwa perintah tersebut tidak hanya sekali saja, namun dalam segala kondisi. Karena bisa jadi seseorang memberi kemudahan pada orang lain di satu waktu namun di waktu yang lain dia mempersulit. Begitu pula perintah memberi kabar gembira dan larangan membuat lari. Demikian yang dijelaskan oleh Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Dakwah yang kreatif serta mudah dicerna, bisa kita lihat dari kisah KH. Ahmad Dahlan dalam Film ataupun Novel “Sang Pencerah”. Diceritakan, Jazuli (salah seorang murid Kiai Dahlan) bertanya: “Yang disebut agama itu sebenarnya apa kiai?”.

Kiai tidak menjawab secara definitif, akan tetapi beliau malah mengambil biola kemudian memainkan tembang Asmaradana (salah satu tembang macapat tentang api asmara/ cinta), alunan biola yang indah itu membuat mereka terbuai.

“apa yang kalian rasakan setelah mendengar music tadi”Tanya kiai Dahlan pada muridnya.

Aku merasakan keindahan, kiai, kata Daniel. “seperti mimpi” kata sangidu. “tentram, semua persoalan rasanya hilang”, sambung Jazuli. “damai”, tambah Hisyam.

“Itulah agama” kata Kiai Dahlan sambil menatap satu persatu muridnya. “Orang beragama hidupnya merasakan keindahan, rasa tentram dan damai. Agama itu seperti music, mengayomi dan menyelimuti”.

Kiai Dahlan lalu menyerahkan biola kepada Hisyam dan menyuruhnya main. Awalnya Hisyam menolak karena sama sekali tidak bisa main biola, tetapi Kiai Dahlan terus meyuruh sebisanya. Maka terdengarlah suara kacau balau, menyakitkan telinga dan mengganggu orang disekitarnya. “Nah, bagaimana dengan penampilan Hisyam tadi?” Tanya Kiai Dahlan.

“Edan, berantakan”, jawab Hisyam

“Demikian juga dengan agama”, kata kiai Dahlan. “Jika kita tidak mempelajari dengan baik, agama itu hanya akan membuat diri sendiri dan lingkungan resah”

Dari cerita di atas bisa kita lihat bagaimana kreatifnya sosok Ahmad Dahlan dalam berdakwah. Dengan lagu asmaradana beliau memberi kesan yang kuat bahwa di tangan orang memahami agama yang mendalam, maka agama itu akan menjadi sesuatu yang indah, menentramkan, damai dan memberikan solusi. Kiai Dahlan berhasil menjelaskan agama yang secara definitif nampak abstrak jika menggunakan bahasa kalam dan fikih, menjadi lebih kongkret, sederhana dan mudah dimengerti. Dengan cara itu para murid kiai Dahlan bisa faham tanpa harus menghafal.

Seorang Da’i seharusnya tidak hanya cerdas dalam membaca dan memahami teks agama yaitu Al Quran dan Sunnah, tetapi juga cerdas dan arif memilah siapa yang di hadapi (kondisi lahan dakwah), serta mampu membaca fenomena sejarah dan perkembangan budaya yang juga bagian dari ayat Tuhan.

            Wallahu’alam bishowab

           Blitar 03122015

______________

B


No comments:

Pages