Mengenal Prof. Dr. Abdul Hadi WM (ulama, sastrawan, budayawan, ahli filsafat, sang pendiri IMM) - Srengenge Online

Breaking

loading...

Ketik tulisan yang anda cari disini

Siapakah Paslon Pilgub Jatim Pilihan Anda?

Monday, September 19, 2016

Mengenal Prof. Dr. Abdul Hadi WM (ulama, sastrawan, budayawan, ahli filsafat, sang pendiri IMM)

Mengenal Prof. Dr. Abdul Hadi WM
(ulama, sastrawan, budayawan, ahli filsafat, sang pendiri IMM)


                        Abdul hadi ketika Muda

Kelahiran IMM (ikatan mahasiswa muhammadiyah) tidak lepas dari seorang tokoh yang bernama Drs. Djasman al Kindi, di dalam buku-buku tentang IMM djasman al Kindilah yang paling sering disebut karena beliau diakui sebagai inisiator berdirinya IMM. Akan tetapi kebesaran nama Djasman Al Kindi tidak menkerdilkan beberapa tokoh pendiri IMM. Salah satunya adalah Prof. Dr. Abdul hadi wiji muthari  yang mana beliau adalah pendiri IMM yang berasal dari kampus UGM (Universitas Gajah Mada) bersama dengan Prof. Dr. HM. Amien rais, MA Yang lebih menarik adalah bahwa Abdul hadi WM adalah keturunan Tionghoa.

Abdul Hadi Wijaya, begitulah nama kecilnya, ketika tumbuh dewasa nama “Wijaya” diganti dengan “Wiji”. Beliau lahir di daerah basis Nahdiliyin yaitu di Sumenep Madura dengan garis keturunan peranakan Indonesia –Tionghoa. Beliau adalah putra ketiga; tetapi kedua kakaknya dan empat adiknya yang lain meninggal dunia ketika masih kecil. Anak sulung dari empat bersaudara (semua laki-laki) ini pada masa kecilnya sudah berkenalan dengan bacaan-bacaan yang berat dari pemikir-pemikir seperti Plato, Socrates, Imam Ghazali, Muhammadf Iqbal Dll. Dengan kegemaran membaca dan Menulis itulah yang mengantarkan Abdul Hadi menjadi seorang budayawan sekaligus sastrawan sufisme yang cukup diperhitungkan. Bersama teman-temannya Zawawi Imron dan Ahmad Fudholi Zaini, Abdul Hadi mendirikan sebuah pesantren di kota kelahirannya tahun 1990 yang diberi nama "Pesantren An-Naba", yang terdiri dari masjid, asrama, dan sanggar seni tempat para santri diajari sastra, seni rupa (memahat dan mematung), desain, kaligrafi, mengukir, keramik, musik, seni suara, dan drama. Kecintaan abdul hadi terhadap seni diucapkan melalui kata-katanya “saya menyukai puisi sejak saya jatuh cinta, yakni ketika SMP". Kemudian dimatangkan oleh karya karya Amir Hamzah, Chairil Anwar serta dukungan dari orang orang terdekatnya


                 salah satu buku karya Abdul hadi


     Abdul hadi ketika di podium

Pendidikan dasar dan menengah Abdul Hadi selesaikan di tanah kelahirannya, dan sekolah menengah atasnya diselesaikan di Surabaya.  Gelar sarjana sastra-nya di Raih di UGM. Selama di UGM inilah Abdul Hadi berkawan dengan Amien Rais (pernah menjadi ketua umum PP Muhammadiyah) dan aktif berberbagai kegiatan gerakan Mahasiswa. Sementara itu, keterlibatan Abdul Hadi dalam bidang jurnalistik ditunjukkannya sejak masa kuliah. Ia menjadi redaktur di beberapa majalah, seperti Gema Mahasiswa UGM, Mahasiswa Indonesia, dll. Seperti halnya Amien rais yang aktif di HMI (himpunan Mahasiswa Islam), Abdul Hadipun juga aktif di HMI. Setelah PP Muhammadiyah merestui berdirinya IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) sebagai satu satunya organisasi kemahasiswaan resmi milik Muhammadiyah Abdul hadi turut andil dalam rangka mendirikan IMM. Abdul hadi sering menulis  tentang kesepian, kematian, dan waktu. Seiring dengan waktu, karya-karyanya kian kuat diwarnai oleh tasawuf Islam. Meskipun orang sering membandingkan tulisan Hadi dengan sahabat karibnya, Dr. Taufiq Ismail, ia mengaku bahwa ia lebih mengajak orang untuk mengalami pengalaman religius yang ia rasakan, sementara Taufiq hanya menekankan sisi moralitasnya. begiltuah kritiknya terhadap sahabatnya sendiri Taufiq ismail

 setelah Gelar sarjana sastra di raih, Abdul hadi meneruskan pasca sarjana di kampus  yang sama. Selama kuliyah pasca sarjana Abdul Hadi terkenal sering berpindah Jurusan, mulai dari fakultas  filsafat barat akhirnya berpindah ke fakultas sastra, kemudian Ia berpindah lagi ke Universitas Padjajaran Bandung mengambil jurusan antropologi. Selama setahun sejak 1973-1974 Abdul Hadi bermukim di Lowa Amerika Serikat  untuk mengikuti  program “international writing programe. Untuk mendalami sastra dan filsafat Abdul Hadi belajar di Jerman selama beberapa tahun. Gelar Maester dan Doktor filsafat di raih di University Sains Malaysia.

 salah satu buku Abdul hadi yang terkenal

Pada 25 November 1978, Abdul hadi menikah dengan seorang wartawati sekaligus pelukis yang bernama Tedjawati atau lebih akrab dengan nama Atiek Koenjtoro. Istrinya itu adalah saudara sepupu dari budayawan Umar Kayam. Saat ini Abdul Hadi WM memperoleh tiga orang cucu, dua orang anak perempuan dari Gayatri dan seorang dari Ayusha. Sewaktu masih tinggal di Jakarta, Abdul Hadi WM hidup bertetangga dengan saudara sepupu ibunya, Soetarmi, istri dari tokoh PKI Nyoto. Dari sini keluarga sutarni derngan keluarga abdul hadi menjadi dekat.
 karya Abdul hadi yang Fenomenal

Walaupun pernah menjadi Dosen di Malaysia dan di beri anugerah "Ahli Cipta" oleh University Sains Malaysia, Abdul Hadi tetap cinta Tanah airnya, kecintaan Abdul hadi terhadap Bangsa Indonesia di tunjukkan dalam puisinya yang berjudul "Doa untuk Indonesia"

Tidakkah sakal, negeriku? Muram dan liar
Negeri ombak
Laut yang diacuhkan musafir
karena tak tahu kapan badai keluar dari eraman
Negeri batu karang yang permai, kapal-kapal menjauhkan diri
Negeri burung-burung gagak\
Yang bertelur dan bersarang di muara sungai
Unggas-unggas sebagai datang dan pergi
Tapi entah untuk apa
Nelayan-nelayan tak tahu
Aku impikan sebuah tambang laogam
Langit di atasnya menyemburkan asap
Dan menciptakan awan yang jenaka
Bagai di badut dalam sandiwara
Dengan cangklong besar dan ocehan
Batuk-batuk keras
Seorang wartawan bisa berkata : Indonesia
Adalahberita-berita yang ditulis
Dalam bahasa yang kacau
Dalam huruf-huruf yang coklat muda
Dan undur dari bacaan mata
Di manakah ia kausimpan dalam dokumntasi dunia ?
Kincir-kincir angin itu
Seperti sayap-sayap merpati yang penyap
Dan menyebarkan lelap ke mana-mana
Sebagai pupuk bagi udaranya
Lihat sungai-sungainya, hutan-hutannya dan sawah-sawahnya
Ratusan gerobag melintasi jembatan yang belum selesai kaubikin
Kota-kotanya bertempat di sudut belakang peta dunia
Negeri ular sawah
Negeri ilalang-ilalang liar yang memang dibiarkan tumbuh subur
Tumpukan jerami basah
Minyak tanahnya disimpan dalamkayu-kakyu api bertumpuk
Dan bisa kau jadikan itu sebagai api unggun
Untuk persta-pesta barbar
Indonesia adalah buku yang sedang dikarang
Untuk tidak dibaca dan untuk tidak diterbitkan
Di kantor penerimaan tenaga kerja
Orang-orang sebagai deretan gerbong kereta
Yang mengepulakan asap dan debu dari kaki dan keningnya
Dan mulutnya ternganga
Tatkala bencana mendamprat perutnya
Berapa hutangmu di bank ? Di kantor penenaman modal asing ?
Di dekat jembatantua
malaikat-malaikat yang celaka
Melagu panjang
Dan lagunya tidak berarti apa-apa
Dan akan pergi ke mana hewan-hewan malam yangterbang jauh
Akan menjenguk gua mana, akan berteduh di rimba raya mana ?
Ratusan gagak berisik menuju kota
Menjalin keribuan di alun-alun, di tiap tikungan jalan
Puluhan orang bergembira
Di atas bayangan mayat yang berjalan
Memasuki toko dan pasar
Di mana dipamerkan barang-barang kerajinan perak
Dan emas tiruan
Indonesia adalah kantor penampungan para penganggur
yang atapnya bocor dan administrasinya kacau
Dijaga oleh anjing-anjing yang malas dan mengantuk
Indonesia adalah sebuah kamus
Yang perbendaharaan kata-katanya ruwet
Dibolak-balik, digeletakkan, diambil lagi, dibaca, dibolak-balik
Sampai mata menjadi bengkak
Kata kerja, kata seru, kata bilangan, kata benda, kata ulang,
kata sifat
Kata sambung dan kata mejemuk masuk ke dalam mimpimu
Di mana kamus itu kau pergunakan di sekolah-sekolah dunia ?
Di manakah kamus itu kaujual di pasaran dunia ?
Berisik lagi, berisiklagi :
Gerbong-gerbong kereta
membawa penumpang yang penuh sesak
dan orang-orang itu pada memandang ke sorga
Dengan matanya yang putus asa dan berkilat :
Tuhanku, mengapa kaubiarkan ular-ular yang lapar ini
Melata di bumi merusaki hutan-hutan
Dan kebun-kebunmu yang indah permai
Mengapa kaubiarkan mereka ……….
 
Negeri ombak
Badai mengeram di teluk
Unggas-unggas bagai datang dan pergi
Tapi entah untuk apa
Nelayan-nelayan tak tahu
 
1971
 
Kesuksesan Abdul hadi tidak datang secara tiba - tiba, kemampuannya telah terasah secara tajam oleh lika liku perjalanan karirnya. Yang mana karir itu antara lain:

·         Redaktur Gema Mahasiswa UGM (1967-1968)
·         Medirikan IMM di UGM bersama kawan-kawannya
·         Redaktur Mahasiswa Indonesia Edisi Jawa Tengah (1969-1970)
·         Dosen Universitas Sains Malaysia (1970an) sekaligus kuliyah disana
·         Redaktur Mahasiswa Indonesia Edisi Jawa Barat (1971-1974)
·         Redaktur Pelaksana Budaya Jaya (1977-1978)
·         Redaktur majalah Kadin (1979-1981)
·         Redaktur Balai Pustaka (1981-1983)
·         Redaktur jurnal kebudayaan Ulumul Qur'an
·         Redaktur Budaya Berita Buana (1979-1990)
·         Ahli Cipta di pusat pengajian ilmu kemanusiaan, University sains Malaysia (tahun1992)
·         Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1983)
               Disinilah kerendahan hati Abdul hadi ditunjukkan, disela sela obrolannya Abdul hadi berkatan “Saya lebih senang disebut sebagai penyair saja” katanya. “jabatan redaktur harian berita Buana dan Dewan Pimpinan harian Dewan kesenian Jakarta hanya sebagai tambahan saja” tambahnya
·         Anggota Lembaga Sensor Film (2000)
·         Ketua Dewan Kurator Bayt al-Qur'an dan Museum Istiqlal
·         Ketua Majlis Kebudayaan PP Muhammadiyah
·         Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)
·         Anggota Dewan Penasihat PARMUSI (Persaudaraan Muslimin Indonesia)
·         Dosen Universitas Paramadina
·         Dosen luar biasa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia
·         Dosen pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta
·         Dosen pascasarjana The Islamic College for Advanced Studies (ICAS) London kampus Jakarta (sekarang)

Karya yang dihasilkan oleh Abdul hadi antara lain:
·         Laut Belum Pasang, Litera, 1971
·         Potret Panjang Pengunjung Pantai Sanur, Pustaka Jaya, 1975
·         Meditasi, Budaya Jaya, 1976 (mendapat hadiah Buku Puisi Terbaik DKJ)
·         Anak Laut Anak Angin, Harapan, 1983
·         Modin Karok, (Cerita Rakyat Madura), Balai Pustaka, 1983
·         Keluarga Tikus (cerita anak-anak), Balai Pustaka, 1984
·         Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Esai-esai Sastra Profetik dan Sufistik (Pustaka Firdaus, 1999)
·         Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya (Pustaka Firdaus, 1999)
·         Tasawuf Yang Tertindas

Tulisan tentang Abdul Hadi WM:
·         "Naturmagie und Sufismus - Gedichte des indonesischen Lyrikers Abdul Hadi W.M.", dalam Orientierungen 1/1991, S. 113-122.
·         "Struktur sajak penyair Abdul Hadi W.M." (1998) oleh Anita K. Rustapa
·         "Mysticism reborn? - The poet Abdul Hadi W.M." (1974) oleh Christine Deakin
·         "Arjuna in meditation: three young Indonesian poets: selected verse of Abdul Hadi W.M., Darmanto Jt & Sutardji Calzoum Bachri", (1976) Writers Workshop, Calcutta

Penghargaan:
·         Hadiah Puisi Terbaik II Majalah Sastra Horison (1969)
·         Hadiah Buku Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta (1978)
·         Anugerah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1979)
·         South-East Asia (SEA) Write Award, Bangkok, Thailand (1985)
·         Anugerah Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) (2003)
·         Penghargaan Satyalancana Kebudayaan Pemerintah Republik Indonesia (2010)
 
Itulah seklumit tentang salah satu pendiri IMM yang namamya kurang menonjol di kalangan IMM sendiri, Ia adalah seorang multi talenta, mulai dari sastrawan, budayawan, ahli filsafat, pakar kemanusian, jurnalis dll. ia adalah Prof. Dr. Abdul Hadi WM

 pustaka: dari berbagai sumber


*Khabib M Ajiwidodo
(Presidum 1 Paguyuban Srengenge, mantan ketua IMM Kediri)





No comments:

Pages