Muhammadiyah Era Awal (sebuah harmonisasi Muhammadiyah dengan Budaya setempat) - Srengenge Online

Breaking

loading...

Ketik tulisan yang anda cari disini

Monday, September 19, 2016

Muhammadiyah Era Awal (sebuah harmonisasi Muhammadiyah dengan Budaya setempat)

Muhammadiyah Era Ewal
sebuah harmionisasi muhammadiyah dengan budaya

oleh: Kang Khabib*

foto pengurus sekolah Muhammadiyah tempo dulu

Banyak orang mengatakan bahwa muhammadiyah itu anti budaya lokal. melalui data data yang dikumpulkan oleh para tokoh sejarah muhammadiyah, dapat disimpulkan bahwa Muhammadiyah tidak anti budaya jawa. Berikut adalah bukti-bukti Muhammadiyah dengan indentitas kejawaannnya:

1. Muhammadiyah lahir di Kauman Yogjakarta, daerah yang berkarakteristik islam-jawa sangat kental. Para priyayi kesultanan urusan agama yang disebut Abdi Dalem Pamethaan kebanyakan adalah pimpinan Muhammadiyah. (Darban.2011)

2. Muhammadiyah di bangun dengan insprirasi dan kesadaran seorang Islam-Jawa tulen. Menurut G.B.P.H Joyokusumo sebutan untuk gelar KH. Ahmad Dahlan adalah " Raden Ngabehi (R. Ng) Ahmad Dahlan". Gelar khusus untuk keluarga kiai-priyayi. (Burhani 2010 dan Djarnawi. cetakan ke 2. 2010)

3. Pada abad 20 Bila NU adalah organisasi para santri maka Muhammadiyah adalah gerakan para priyayi muslim. (Clifford Gerrtz 1960)

4. Pendiri dan pengurus Muhammadiyah awal adalah para priyayi kraton yogyakarta. seperti Raden Tjandana haji ahmat dan raden Sosrosugondo. (burhani. 2010)

5. Cara berpakaian para pemimpin muhammadiyah mendekati cara berpakaian budaya jawa dengan blangkon dan sarung jarit. (lihat GOOGLE foto2 pengurus muhammadiyah masa awal)

6. Pada muktamar di solo th 1929 di serukan untuk memakai pakaian tradisional cara negerinya/daerahnya masing masing yang tidak melanggar syara' masuk dalam salah satu aturan bagi peserta muktamar. (keputusan resmi, Conggres Muhammadijah ke XVIII di Solo 1929)

7. Bahasa jawa adalah bahasa resmi Muhammadiyah sebelum diganti oleh bahasa Indonesia. (Burhani. 2010)

8. Muhammadiyah adalah organisasi pertama di Indonesia yang memperkenalkan khutbah jumat dalam bahasa masyarakat setempat. (hefner dkk, 2008)

9. Menurut salah satu murid kiai Ahmad dahlan di kweekschool Jetis, Prof. Sugarda purakatwaja, Kiai Dahlan pernah mengizinkan murid muridnya untuk shalat dengan menggunakan bahasa jawa jika mereka benar-benar tidak mengerti/bisa mengucapkan bahasa Arab (*red). (burhani. 2010)


KH. Sjoedja, Murid KH. Ahmad Dahlan, memakai Blangkon sebagai identitas orang Jawa


10. Muhammadiyah memiliki ikatan cukup erat dengan Boedi Oetomo, sebuah organisasi yang ingin membangun kembali budaya jawa. Seluruh pendiri Muhammadiyah merupakan anggota Boedi Oetomo. (burhani 2010)

11. Muhammadiyah tidak pernah menolak upacara grebek yang di selenggarakan Kraton Yogyakarta, yang ditolak adalah  sifat tahayulnya. (burhani . 2010). Biasanya Muhammadiyah sendiri juga melakukan grebek/perayaan agama islam dengan acara tabligh akbar. (Hefner, dkk 2008)

12. Sampai wafatnya kiai Dahlan tidak pernah melepaskan statusnya sebagai abdi dalem pamethakan. (Burhani.2010)

13. Muhammadiyah pada masa awal menggunakan penanggalan kalender saka dan hari pasaran jawa dalam aktifitas kesehariannya. Muhammadiyah baru merekomendasikan menggunakan kalender hijriyah pada waktu konggres ke 26 di Surabaya tahun 1926. (edisi 2, Hoofdcomite conggres Muhammadijah 1938)

14. Muhammadiyah menerbitkan terjemah Al Quran, 2 edisi bahasa jawa dan beraksara jawa. (Verslag Muhammadijah 1940)

15. Muhammadiyah juga berpartisipasi dalam Jong-Java dan konggresnya di Yogyakarta. (Burhani. 2010)

16. Saat ini banyak dalang-dalang wayang kulit yang juga aktif di Muhammadiyah. Hal tersebut bisa di lihat di Muhammadiyah Tulungagung, Muhammadiyah Ponorogo dan Muhammadiyah Jawa tengah. Pementasan wayang kulit juga sering di gelar di wilayah Muhammadiyah tersebut. Wayangan di laksanakan dengan meninggalkan unsur syirik. Pementasan Wayang kuliot tersebut dilakukan oleh seorang dalang yang juga warga bahkan pengurus Muhammadiyah.

Akhirnya kita bisa mengatakan bahwa bagi muhammadiyah, Islam secara kultural di jawakan, dan Jawa secara substansi diislamkan. Jawa sebagai ISME DITOLAK, jawa sebagai BUDAYA DITERIMA. (Burhani. 2010)


Pengurus Muhammadiyah awal


*penulis adalah aktivis muda Muhammadiyah Blitar, sekarang aktif di sekretaris MPK Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Blitar.


No comments:

follow

Pages