Tuhan dan To Hen, atau The One (Makna Lain dari Manunggaling Kawulo lan Gusti) - Srengenge Online

Breaking

loading...

Ketik tulisan yang anda cari disini

Saturday, October 1, 2016

Tuhan dan To Hen, atau The One (Makna Lain dari Manunggaling Kawulo lan Gusti)





Plato merupakan filosof yang sangat mengagungkan intuisi. Baginya, setiap orang menciptakan realitas dalam idea atau alam fikiran mereka masing-masing. Bukan sebaliknya. Meski teori ini kemudian dikoreksi –atau lebih tepatnya dilengkapi—oleh muridnya bernama Aristoteles, yang lebih menekankan bahwa segala ide itu datang dari pengalaman (empiris).

Pemikiran Aristoteles memang lebih realistik, termasuk kaitannya dengan perkembangan Ilmu pengetahuan kedepannya, yang lebih menekankan pada eksperimentasi. Tapi pemikiran Plato tidak kalah berpengaruh. Jika pemikiran Aristoteles kemudian dikunyah dengan sangat baik oleh para ilmuan, akademisi, dan intelektual yang hidup dalam zona rasional dan serba terukur. Pemikiran Plato kemudian diilhami oleh para mistikus dan para sufi. Sampai kemudian, ada aliran filsafat bernama neo platonism.

Menurut aliran ini, idea tertinggi dari umat manusia adalah kebaikan yang disebut oleh Plotinos to en = “to hen”, yang esa, “the one”. Yang esa adalah awal, yang pertama, yang paling baik, paling tinggi, dan yang kekal. Yang esa tidak dapat dikenal oleh manusia karena tidak dapat dibandingkan atau disamakan dengan apa pun juga.

Sejalan dengan itu, istilah yang maha esa, atau yang maha segalanya, dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan Tuhan. Maka kita menyebut Tuhan sebagai sang segala maha, sama seperti para neo platonism menyebut to en, to hen atau the one. Maha esa atau maha satu. Monoteisme. To en adalah simbol idea kebaikan, yang merupakan idea tertinggi.

Karena itulah, dalam to en mengalir akal budi, jiwa, roh yang bersifat materi. Singkatnya, dalam hidup, manusia harus mengaliri dirinya dengan ‘to en’ tadi. To en lah yang menjadi tujuan utama dalam hidup, berbuat kebaikan. Maka, manusia tertinggi dalam pemikiran neo platonisme, adalah manusia yang menyatu dengan to en. Ketika manusia menyatu dengan to en, maka ia akan menjadi manusia yang berakal budi baik.

Pemikiran filsafat plato memantik orang untuk berfikir lebih dalam tentang spiritualitas, bukan hal-hal ilmiah-terukur. Di Jawa misalkan, orang-orang yang berfikiran demikian tidak disebut ilmuan, melainkan mistikus, atau sufi. Konsep bersatunya to en dengan manusia, dalam tradisi jawa dikenal dengan istilah “Manunggaling kawula lan gusti”, sementara tujuan hidup manusia adalah kepada to en atau Tuhan atau Kebaikan tadi, biasa disebut dengan istilah “Sang Sangkan Paraning Dumani”.

Entah ini kebetulan atau memang pernah ada interaksi antara filsafat yunani dengan filsafat jawa, tapi itu menunjukkan jika filsafat tidak selalu hal-hal yang bersifat rasional-empiris. Bisa rasional-induktif. Logis bagi diri kita, tapi belum tentu logis bagi orang lain. Fenomena Syekh Siti Djenar seharusnya dibaca tidak sebagai ‘pembangkang teologis’, tapi sebagai pengalaman filosofis, sekaligus mistis. Bagi kita mungkin tidak logis, tapi logis bagi Syekh Siti Djenar.

Termasuk tentang nama-nama Allah yang melekat dalam diri manusia. Bukan tidak mungkin manusia memiliki sifat ilahiyah, tapi bukan berarti dia menjadi Tuhan. Misal Allah maha pengasih dan penyayang, dua hal yang juga bisa dimiliki manusia dengan kadarnya masing-masing. Manusia yang peduli dengan orang lain, suka menolong, dan berbuat baik, kalau merujuk pada teori neo platonism, ia telah berada pada idea tertinggi manusia. Namun Al Qur’an menyebut bahwa manusia itu sebagai Khalifah fil ard. Pemimpin di Bumi.

Dalam Islam, istilah “wakil-wakil Tuhan” itu dibagi sedemikian rupa. Ada yang diutus langsung, dengan diberikan kelebihan diluar nalar manusia dan diberi beban yang besar, disebutnya Rosul. Allah membatasi Rosul hanya sejumlah 25 orang saja dari berbagai periode peradaban. Rosul kita saat ini adalah Muhammad SAW. Tapi dari 25 Rosul itupun masih dipilah lagi yang paling berat bebannya, yang jumlahnya ada 5 dan kita sebut Ulul Azmi.

Selain Rosul, tingkatan dibawahnya adalah Nabi. Jumlahnya lebih banyak. Banyak versi tentang jumlah Nabi. Setiap Rosul pastilah seorang Nabi, tapi belum tentu seorang Nabi adalah Rosul. Seperti Nabi Khidir. Ia Nabi tapi bukan Rosul. Baik Nabi dan Rosul diberikan sesuatu yang disebut Mukjizat. Dalam Islam, Mukjizat itu hanya untuk Nabi dan Rosul. Jadi tidak bisa orang sembarang bilang dapat Mukjizat. Sebutan Nabi dan Rosul dalam Islam sudah ditutup. Setelah Muhammad, tidak ada lagi Nabi dan Rosul.

Dibawahnya lagi, ada disebut Waliyullah. Waliyullah ini adalah orang-orang terpilih, tapi mereka bukan Nabi atau Rosul. Waliyullah ini susah dianalisis sebagaimana Nabi dan Rosul, karena tidak disebutkan nama secara spesifik. Berbeda dengan Rosul yang disebutkan namanya. Tapi seorang Waliyullah ini cirinya diberikan kelebihan diluar batas manusia biasa, yang disebut Karamah. Di Jawa kita mengenal istilah Wali Songo. Wali Songo dianggap memiliki kelebihan dibandingkan pendakwah biasa karena berhasil meng-Islam-kan Jawa yang dulu Mayoritas Hindu dan Buddha. Kemampuan inilah yang menurut beberapa pendapat disebut karamah.

Rosul, Nabi, dan Wali adalah orang yang mendedikasikan hidupnya untuk kebaikan. Dalam teori neo platonism, merekalah yang mungkin disebut orang-orang yang menyatukan diri dengan To en. Menjadi abdi dan wakil Tuhan paling terdepan untuk merawat bumi, merawat kehidupan, dengan beban yang besar dan menantang, yang orang biasa tidak sanggup menghadapinya.

Tapi Al Quran tidak membatasi arti dari Khalifah. Semua manusia di muka bumi ini adalah Khalifah. Menurut M. Iqbal, sastrawan terkemuka asal Pakistan, manusia melanjutkan tugas profetis (kenabian). Tugas kenabian yang dimaksud tentu tidak sebesar tugas para nabi dan rosul terdahulu. kita mungkin diminta menyelesaikan hal-hal yang lebih sederhana dari itu.

Misal, Tuhan menciptakan tumbuhan, untuk kita rawat, kita pelihara agar bermanfaat bagi hidup dan kemanusiaan. Bukan menghancurkannya demi kepentingan sesaat, sehingga terjadilah bencana alam yang merugikan banyak orang. Itulah salah satu tugas kecil kita sebagai khalifah. Sehingga, kalau merujuk pada idea-nya neo platonisme, bentuk dari manunggaling kawula gusti bisa berwujud pada hal-hal praktis semacam itu. Kebaikan kecil yang bisa kita perbuat.

Dengan melakukan kebaikan-kebaikan itu, meski dalam skala kecil, maka kita tengah menuju to en, Tuhan. Kita menyatukan diri dengan dzat maha menciptakan dan memelihara hidup. Kita menjadi Khalifah. Manunggaling kawula lan gustidalam bentuk amal perbuatan. Tidak selalu dengan hal-hal yang susah diterka dan memusingkan.

Blitar, 1 Oktober 2016
A Fahrizal Aziz

No comments:

Pages