Pengalaman Mistis Buya Hamka - Srengenge Online

Breaking

loading...

Ketik tulisan yang anda cari disini

Thursday, December 1, 2016

Pengalaman Mistis Buya Hamka

Pengalaman Mistis Buya Hamka




Cerita mistis yang dialami oleh Buya Hamka ini diceritakan oleh Irfan Hamka melalui novel yang berjudul: "Ayah... Kisah Buya Hamka". 

Kisah ini tertulis dalam novel, halaman 59 s/d 78, Bab Tiga, "Ayah Berdamai dengan Jin". Dituliskan, pada 1956, Buya Hamka dan seluruh keluarganya tinggal di rumah baru, tepatnya di Jalan Raden Fatah III, Kebayoran Baru, Jakarta. 



begini kisahnya ...

Di rumah baru itu, Buya Hamka sekeluarga sempat mengalami gangguan dari mahluk ghoib. Singkat cerita, karena sering mengalami gangguan oleh mahluk ghoib, akhirnya Buya Hamka mengajak seluruh keluarganya sholat sunnah dua rakaat, berdo'a kepada Allah SWT dan berdialog dengan mahluk ghoib itu.

"Besok malam kita coba menghubungi pemilik bunyi sesuatu itu," ujar Buya Hamka kepada keluarganya. 

Lalu pukul 23.00 malam, Buya Hamka mengajak anak-anaknya sudah bersiap. "Ayah mengajak abang-abangku untuk mengerjakan shalat sunah dua rakat. Setelah itu, terdengar ayah berdzikir, diikuti oleh semua yang hadir. Setelah berdzikir, terlihat mulut Ayah terus komat-kamit," tulis Irfan Hamka dalam novelnya, halaman 67.

Menjelang pukul 12 malam, lanjut Irfan Hamka, tiba-tiba terdengr suara cecak berbunyi bersahut-sahutan. Terdengarnya dari seluruh sudut rumah. 

Di kejauhan, dari arah depan rumah, terdengar suara ketukan seperti suara benda keras beradu dengan batu kerikil yang terdapat di sekeliling rumah. Mula-mula suaranya lemah, berangsur-angsur suara itu tambah nyaring, tutur Irfan Hamka.  

"Assalammu'alaikum, ya Abdillah, kami sengaja menunggu kehadiran Saudara untuk berkenalan. Bisa saudara mendengarnya? Bila bisa, tolong beri tanda tiga kali ketukan!," seru Buya Hamka dengan suara yang tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan.

Baru saja Ayah selesai bicara, terdengar tiga kali ketukan. "Tok-Tok-Tok," terdengar suara ghaib yang tak berbentuk namun terdengar seperti ketukan tongkat itu.

"Saya bangun rumah ini dengan susah payah dari hasil kerja keras dan keringat. Tidak mungkin saya tinggalkan rumah ini hanya karena sering saudara ganggu dan takut-takuti keluarga saya. Kalau memang itu maksud Saudara, coba beri tanda lagi dengan suara ketukan satu kali, kalau bukan, beri tanda dua kali ketukan," tutur Buya Hamka melanjutkan permintaannya.

Setelah agak lama tidak ada jawaban, suasana rumah pun semakin hening menunggu jawaban dari "suara gaib" itu. "Kalau ingin menakuti keluarga saya, saya sanggup mengusir saudara dari rumah saya," kata Buya Hamka dalam tulisan Irfan Hamka.

"Tok, Tok," terdengar "suara ghaib" berupa ketukan dua kali. sebagai jawabannya.

"Saya tidak mau melupakan kehendak Allah, karena kami sekeluarga beriman kepada Allah. Apa saudara beriman juga kepada Allah? Beri jawaban dengan ketukan satu kali," ujar Buya HAMKA melanjutkan permintaannya.

"Tok," terdengar suara ketukan satu kali.
 
"Senang Saudara tinggal di rumah ini? Kalau tidak, tidak usah dijawab. Kalau senang, ketuk satu kali," lanjut Buya HAMKA.

"Tok," suara ghaib itu terdengar kembali.

"Mari kita diami rumah ini bersama-sama, saling menghormati. Saya telah serahkan keamanan rumah dan keluarga saya kepada Allah semata-mata. Tolong diamati dan diperhatikan. Setuju?," tutur Buya HAMKA lagi. 


Setelah itu, terdengar kembali ketukan tiga kali, "Tok, Tok, Tok,"tulis Irfan Hamka. Kemudian, Buya HAMKA pun mengajak seluruh keluarganya untuk berdoka kepada Allah SWT.


__oo__

Tentang Penulis:

Irfan Hamka, menunjukkan Novelnya yang berjudul "Ayah"

Irfan Hamka (lahir di Medan24 Desember 1943 – meninggal di Jakarta11 Juli 2015 pada umur 71 tahun) adalah putra Buya Hamka, Ia juga seorang wartawan  dan penulis Indonesia. Irfan merupakan mantan aktivis '66 yang tergabung dalam Laskar Ampera, sebuah perhimpunan mahasiswa yang giat menuntut reformasi sosial politik pada tahun 1960-an.
Ia memulai karier jurnalistiknya pada majalah Panji Masyarakat yang didirikan ayahnya, Hamka, pada akhir tahun 1950-an. Ia dikenal sebagai wartawan yang selalu menulis dengan data yang detail dan otentik Ia menempuh pendidikan tinggi dan meraih gelar sarjana muda pada Fakultas Hukum Universitas Muhamamdiyah jakarta pada tahun 1968
Irfan merupakan anak ketujuh di antara 12 orang bersaudara, putra dari Buya Hamka dengan Siti Raham. Dua orang saudara tertuanya meninggal dunia sewaktu masih balita, sehingga ia menjadi anak kelima di antara 10 orang bersaudara yang berumur cukup panjang.
Irfan lahir pada 24 Desember 1943 di Medan. Ia meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 11 Juli 2015 dalam usia 71 tahun karena penyakit diabetes yang dideritanya. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Kalimulia IDepok, Jawa Barat
(sumber. wikipedia)


No comments:

follow

Pages