TAN - Srengenge Online

Breaking

loading...

Ketik tulisan yang anda cari disini

Saturday, January 21, 2017

TAN

TAN


Ibrahim yang kemudian di beri gelar “Datuk” (Datuk Ibrahim) atau lebih terkenal dengan nama Tan Malaka (Nama pena)  mengawali pendidikan dasarnya di Sekolah Rakyat di asal kelahiranya, dan melanjutkan sekolah guru pribumi (Inlandsche Kweekschool voor Onderwijzers) di Bukit Tinggi, Setelah menyelesaikan pendidikan Kweekschool ia melanjutkan pendidikannya di Harleem, Belanda pada 1913. Nilainya yang cukup memuaskan dan hubungannya yang bagus dengan gurunya menjadikan mereka bersimpati pada Tan Malaka. Mereka rela mengumpulkan Rp. 50 tiap bulan untuk membantu Tan Malaka dalam studi lanjutnya di Belanda (Tan Malaka,2008: 34).

Selama mengenyam pendidikan inilah Tan Malaka mulai berkenalan dengan buku-buku filsafat karya pemikaran Jerman, Nietzche dan buku-buku tentang revolusi Prancis dan Amerika. Tan Malaka juga sangat bersimpati dengan pergerakan yang dilakukan kaum buruh komunis Rusia yang terjadi pada bulan oktober 1917, dan mulai berkenalan dengan buku-buku yang berkaitkan dengan Revolusi Rusia, seperti Het Kapital karya Marx, Engels, dan Kautsky (Poeze, 2000:71).

Kemudian Tan Malaka kembali ke Indonesia dan menjadi guru bagi anak-anak kaum buruh di perkebunan Sumatera, tepatnya di Deli dari Desember 1919 sampai Juni 1921. Pengalamannya bergaul dengan kaum proletar inilah yang makin memantapkan Tan bergerak dalam bidang pendidikan. Dari Deli ia menuju Semarang pada Juli 1921, tujuannya adalah untuk mendirikan perguruan yang sesuai dengan keperluan dan jiwa rakyat Murba (Musyawarah rakyat banyak)  masa itu. Rakyat Murba adalah sebutan Tan Malaka untuk kaum proletar. Di Semarang inilah Tan Malaka dekat dengan Vereniging van Spoorden Tram Personel (VSTP) atau Serikat Buruh Kereta Api yang waktu itu diketuai oleh Semaun, yang kemudian mengetuai Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebelumnya PKI bernama Indische Sociaal Democratische Partai (ISDP) yang didirikan kaum sosialis revolusioner Belanda pada 1914. Ketika di Semarang itulah Tan dekat dengan Sarekat Islam (SI) HOS Tjokroaminoto. Setibanya Tan Malaka di Semarang, Semaun mengadakan rapat istimewa anggota SI Semarang untuk mengusulkan mendirikan perguruan yang dicita-citakan olehnya (Tan Malaka, 2008: 93-94).

Sekolah rakyat yang didirikan, biasanya juga disebut sekolah Tan Malaka, segera mendapat tempat dihati rakyat, disamping bayaran yang murah sekolah tersebut sesuai dengan keadaan jiwa rakyat jelata yang sedang tertindas. Sehingga dimana-mana didirikan sekolah model Tan Malaka, bersamaan dengan kemajuan sekolah rakyat tersebut, dalam wilaya politik sedang berkecamuk perbedaan dalam serikat Islam antara kelompok SI dan PKI.

Menurut sejarahwan Anhar Gonggong, Tan Malaka adalah tokoh yang dekat dengan HOS Tjokroaminoto (guru para pendiri bangsa). Tan memiliki keyakinan yang sama bahwa Islam adalah potensi besar untuk membawa kaum bumiputra menuju kemerdekaan. Hal ini terbukti dengan pembentukan SI-merah oleh Tan Malaka, karena ia tidak ingin Islam dipertentangkan dengan komunisme. Karena pemikirannya ini, dan juga ketidak sepahamannya untuk melakukan revolusi PKI tahun 1926 menyebabkannya harus didepak dari PKI.

Bagi Tan pemberontakan yang direncanakan PKI kelompok Prambanan bukan saat yang tepat. Digambarkan oleh Tan Malaka dalam buku aksi massa.   moment perubahan aksi masa menjadi pemberontakan bersenjata timbul dengan sendirinya, sebagai hasil dari berbagai maca keadaan, bukan direncanakan terlebih dahulu. Hal tersebut disebabkan oleh karena masa hanya berjuang untuk kebutuhan yang terdekat dan sesuai dengan kepentingan ekonomi. Karena mereka ditinggal oleh masa, sebab dari awal mereka telah memisahkan diri dari masa (Malaka. 2000:95).



Penggalan pidato Tan Malaka pada Kongres Komunis Internasional keempat pada tanggal 12 Nopember 1922 dapat menjelaskan bagaimana sikap Tan Malaka sebagai tokoh komunis terhadap Islam. Pada pidato tersebut, ia menentang thesis Lenin yang diadopsi pada kongres kedua, yang menekankan perlunya sebuah “Perjuangan Melawan Pan Islamisme”. Di sini Tan Malaka mengusulkan sebuah pendekatan yang lebih positif.  Berikut penggalan pidato Tan Malaka:

Pan-Islamisme adalah sebuah sejarah yang panjang. Pertama saya akan berbicara tentang pengalaman kita di Hindia Belanda di mana kita telah bekerja sama dengan kaum Islamis. Di Jawa kita memiliki sebuah organisasi yang sangat besar dengan banyak petani yang sangat miskin, yaitu Sarekat Islam. Antara tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota, mungkin sebanyak tiga atau empat juta. Itu adalah sebuah gerakan popular yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner.”

Dalam Pidatonya, Tan Malaka menyampaikan usulan pada komintren mengenai pentingnya kerjasama kaum komunis dengan gerakan Pan Islamisme di negara-negara jajahan. Menurutnya Pan Islamisme bukanlah sebuah gerakan keagamaan, melainkan sebuah gerakan perjuangan kemerdekaan melawan kekuasaan imprialisme. Tan juga mengingatkan bahwa kaum muslim yang saat itu berjumlah 250 juta orang dapat menjadi sebuah kekuatan besar yang dapat dirangkul dalam perjuangan melawan kekuasaan imperialism di dunia, terutama di tanah jajahan (Malaka, 2000:313-316).

Dilain kesempatan ketika terjadi konflik dalam tubuh serekat Islam, seorang bertanya pada Tan Malaka, apakah dia seorang komunis yang anti agama (atheis)? Tan Malaka menjawab dengan bahasa Belanda :

Als ik voor God sta, ben ik Moslim, maar als ik voor de mensen sta, ben ik geenn moelim, omdat heeft gezegd date er onder de mensen vele duivels zijn”
 (jika saya berdiri dihadapan Tuhan, saya adalah seorang muslim, tetapi jika saya berhadapan di depan manusia, saya bukan muslim sebab bukankah Tuhan pernah mengatakan bahwa diantara manusia itu banyak setannya)
(Poeze,2000:315)

Banyak petinggi Komintern (Komunis Internasional) yang kemudian memusuhinya. Perbedaaan pandangan Tan dan para petinggi komintern lain. Mayoritas tokoh Komintern menilai gerakan Islam sebagai pengehalang dan juga sisa-sisa feodalisme yang harus dibasmi, sedangkan Tan Malaka sangat tidak setujuh. Terlepas dari keyakinan yang dipegang oleh Tan Malaka, Menurut  Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya menyebutkan "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia".  memberi komentar: "Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…." Hal ini diamini bila kita bandingkan ketika Tan Malaka dengan bukunya yang berjudul Near de Republiek Indonesia yang pertama kali menggagas berdirinya republik Indonesia pada April 1925 di Kowoloon Cina, mendahului karya Moh. Hatta dengan Mencapai Indonesia Merdeka pada 1930 di Belanda dan Soekarno di tahun 1932 dengan Kearah Indonesia Merdeka (Kutoyo, 2000:213).

Tan Dalam Pengasingan (1922-1942)

Tan Malaka menjadi korban politik pembuangan yang dilakukan Belanda dengan tuduhan mengganggu keamanan dan ketertiban umum, di Belanda Tan Malaka di sambut Partai Komunis Belanda (CPH). Tan Malaka di jadikan juru kampanye sekaligus dicalonkan sebagai anggota Parlemen Belanda (Prabowo, 2002:17). Ditahun yang sama Tan Malaka menjadi duta Komintren wilaya Asia Tenggara pada Kongres Komunis Internasional (Komintern) IV di Moskow. Selanjutnya pengembaraan dan pelarian Tan Malaka dari kejaran polisi rahasia kaum Kolonial dari satu negara ke negara lainnya. Ia pun sempat bertemu berbagai tokoh pergerakan di Asia seprti Dr. Sun Yat Sen yang dinilainya sebagai borjuis kecil dan Manuel Quezon, Presidan Pertama Republik Filipina yang membela Tan Malaka saat di tangkap Inggris, saat Tan Malaka bersembunyi di Filipina sebagai wartawan.



Walau menetap dinegeri orang totalitas perjuangan Tan Malaka pada masalah-masalah pergerakan nasional untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Pada esensinya pemikiran-pemikaran dan perjuangan Tan Malaka terpusat kepada tujuan bagaimana memerdekaan bangsanya sekaligus merombak secara total seluruh tatanan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Jauh sebelum Sukarno menulis Indonesia menggugat pada tahun 1932 yang berisi arti penting kemerdekaan bagi bangsa Indonesia ataupun Hatta dengan Kearah Indonesia Merdeka pada 1930, Tan Malaka sudah menulis pamplet berjudul Naar De Republik (Menujuh Republik Indonesia) sebagai konsepsi menujuh kemerdekaan Indonesia yang terbit pertama kali di Kowloon Cina, April 1925 semasa pengasinganya.

Pada Juni 1927 Tan Malaka mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) di Bangkok, Thailand. Dan PARI menolak berkoordinasi dengan Komintren (Poeze, 1988:356).  Bersama Soebakat dan Djamaluddin Tamin mengumumkan PARI bahwa partai ini independen dari Kominter maupun PKI. Perjuangan PARI berdasarkan pamflat Near de Republiek Indonesia sebagai gerakan bawah tanah untuk memimpin jalanya Revolusi Indonesia menggantikan peran PKI. Namun PARI sebagai gerakan kiri di Indonesia dan sebagai grakan Revolusi tidak bias berkembang di Indonesia setelah dua tokoh kepercayaan Tan Malaka tertangkap.

Keberadaan PARI yang di bentuk Tan Malaka dan sifat independen yang di ambil PARI, menjadikan Tan Malaka tidak hanya sebagai musuh dan ancaman bagi pemerintahan kolonian namun juga menjadi musuh utama PKI dibawah pimpinan Muso. Selanjutnya sejak  tahun 1927 sampai 1932 kegitan politik Tan Malaka semakin terhambat. Tan Malaka lebih sering berada dalam pengejaran intel Imprealisme Belanda, Inggris dan Amerika.

Setelah 20 tahun dalam pelarian di luar negeri Tan Malaka kembali ke Indonesia pada tahun 1942 pada masa Jepang mendaratkan diri dan berkuasa di Indonesia. Sekembali ke Indonesia Tan Malaka sempat menuliskan karya pentingnya di balik kehidupan serba kekurangan yang ia alami, yakni MADILOG (Materialisme Dialektika dan Logika) yang dimulai sejak 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943. Buku yang mengajak dan memperkenalkan kepada bangsa Indonesia cara berfikir ilmiah, dan meninggalkan cara hidup yang dogmatis. Selama pendudukan Jepang Tan Malaka sering menjalin kontak dengan tokoh pemuda seperti Sukarni, Chairul Saleh, Adam Malik, Maruto, Pandu Kartawiguna dan lain-lain. 

Sampai menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945, memang Tan Malaka tidak terlalu ambil bagian secara langsung dalam antusias medan euforia kemerdekaan dan ini diakuinya sebagai penyesalan terbesar dalam hidupnya (Fa’al 2005 :135-137). Perjuang Tan Malaka di mulai setelah kedatangan kembali Belanda dan sekutu yang ingin kembali merongrong kekuasaan di Indonesia.

Tan Malaka adalah satu dari sedikit anak bangsa yang konsisten memegang prinsip ideologis yang ia yakini hingga akhir hayatnya. Setelah kisah hidupnya dibungkam oleh Orde Baru, termasuk karya-karyanya dilarang beredar, pada pascareformasi nama Tan Malaka bergaung kembali. Tan Malaka pada masa perjuangan kemerdekaan sering disebut-sebut dari mulut ke mulut, namun sulit untuk mengetahui persis keberadaannya, hingga relatif orang hanya dapat mengetahui dari karya-karyanya. Hal itu karena Tan Malaka lebih banyak menyamar dengan berganti-ganti nama dan berpindah tempat, sebagai konsekuensi dari gerakannya yang tidak mau kompromi dengan penjajah -padahal sebagian dari pejuang kemerdekaan melakukan kompromi juga konsekuensi dari gagasan-gagasan provokatif revolusionernya yang telah ia tuangkan dalam karya-karyanya yang dibaca secara sembunyi-sembunyi (Tempo, 17 Agustus 2008: 26). Dalam otobiografi pendek yang ia tulis dalam Dari Penjara ke Penjara terlihat juga bahwa ia betul-betul membumi dan membaur dengan rakyat, buruh, kelas pekerja, dan mereka yang selama ini diperjuangkan oleh Tan Malaka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tan Malaka adalah potret intelektual organik, intelektual yang terlibat langsung dalam perjuangannya, tidak sekadar berwacana melalui tulisan saja. Ia betul-betul menyelami kehidupan kaum proletar yang diperjuangkannya, menjadi bagian darinya dengan menjadi buruh, pekerja keras, tukang ketik, dan lainnya.

Sekilas MADILOG

Dalam wawancara majalah detik oleh keponakan Tan Malaka, Zulkifi Kamarudin (Majalah Detik, 2014: 99), mengenai keislaman Tan Malaka, menyatakan Tan Khatam dan hafal Al-Qur’an karena sejak kecil belajar mengaji di surau dari cerita Nenek-nenek mereka mengenai sosok Tan Malaka. Sebagaimana banyak litelatur, kebudayaan Minangkabau sangat kental dengan nuansa Islami. Hal ini dibuktikan dengan semboyan adat minang yaitu; “adat basandi syariat, syariat basandi kitabullah” (adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan kitabullah). Tan Malaka menggambarkan keadaan keluarganya dengan menulis:

”sumber yang saya peroleh untuk pasal ini (agama Islam) adalah sumber hidup. Seperti sudah saya lintaskan dahulu, saya lahir dalam keluarga Islam yang taat. Ketika sejarah Islam di Indonesia bisa dikatakan masih pagi, diantara keluarga tadi sudah lahir seorang alim ulama, yang sampai sekarang dianggap keramat. Ibu-Bapak saya keduanya taat, takut pada Allah, dan menjalankan sabda Nabi. (Tan Malaka, 2010: 381-382).”

Pemikiran Tan Malaka secara konsisten, didasarkan pada filsafat dan pandangan hidup Madilog yang merupakan landasan dasar dan harus disadari oleh kaum proletar Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Madilog hadir, berangkat dari keprihatinan Tan Malaka kepada kaum proletarian yang terlalu tenggelam dengan dunia takhayul dan mistis yang menjadikan mereka tidak realistik dan tak punya nyali untuk bergerak melawan imperalisme. Kaum proletarian hanya bergantung, enggan berubah dan terkesan menunggu datangnya Ratu Adil yang akan membebaskan mereka pada keterpurukan, yang mana cerita itu belum tentu benar adanya (takhayul). Dalam filsafat pemikirannya, Tan Malaka menyebut masalah pelik ini sebagai logika mistika. Untuk mengatasi hal tersebut, Tan Malaka menyodorkan tiga hal sebagai senjata penangkalnya, yakni Materialisme, Dialektika dan Logika disingkat MADILOG



(Ma) Materialisme, menekankan pada keterarahan perhatian manusia pada kenyataan, bukan kepada khayalan dan takhayul. Logikanya sederhana, dari pada kita sibuk mencari penyebab tentang segala kejadian di alam gaib, lebih baik kita mencari kenyataan bendawi sendiri. Dalam mengkaji realitas, maka diperlukan ilmu pengetahuan yang berbasis pendekatan ilmiah. Dengan begitu, paraproletar Indonesia akan berpikiran maju dan dapat keluar dari keterpurukan. Namun, materialisme akan dapat optimal apabila disertai oleh dialektika.

(Di) Dialektika, menjelaskan bahwa realitas tidak dilihat sebagai sejumlah unsur terisolasi yang sekali jadi lalu tak pernah berubah. Dialektika mengatakan bahwa segala sesuatu bergerak maju melalui langkah-langkah yang saling bertentangan. Khususnya ia menyebutkan dua hokum dialektika: hukum penyangkalan dari penyangkalan dan hukum peralihan dari pertambahan kuantitatif ke perubahan kualitatif dan kesatuan antara yang bertentangan.

(Log) Logika, oleh Tan Malaka secara eksplisit membandingkan dan menggantikan logika mistis menjadi logika realitas. Dari madilog, Tan Malaka menunjukkan betapa lebih mampu Madilog daripada logika gaib dalam menjelaskan segala kenyataan penting yang kita hadapi. Seperti perkembangan alam raya, evolusi organisme, sejarah manusia dan lain sebagainya (Suseno, 2000).

Menurut Tan Malaka, seorang pemimpin haruslah seorang yang cerdas dan mampu memimpin suatu pergerakan revolusioner. Ia dapat memberikan pertimbangan dan memperkirakan arah perjuangan yang akan berjalan. Di samping itu, seorang pemimpin haruslah dapat menyelami kemauan rakyat dan dapat mengubah kemauan masa menjadi perbuatan masa. Namun untuk menggerakkan suatu masa haruslah memiliki suatu partai revolusioner. Partai inilah yang nantinya akan mempertemukan orang-orang yang memiliki persamaan pandangan dalam revolusi. Untuk mencapai kemenangan revolusi, harus memperhatikan dua syarat berikut : pertama, kondisi objektif, yaitu suatu tingkatan sistemproduksi yang tertentu dari masyarakat dan taraf tertentu dari kesengsaraan rakyat. Sedangkan yang kedua adalah kondisi subjektif, yaitu kesediaan rakyat untuk membuat sebuah partai revolusioner yang berdisiplin dan mengakar dalam masa rakyat (Rambe, 2003: 201).

Tan Malaka adalah model seorang intelektual organik dalam istilahnya Gramsci, intelektual yang tidak sekadar piawai bermain teori, namun juga mampu membumi dan bergerak di akar rumput. Ia tidak sekadar menuangkan gagasannya dalam buku, pamflet, dan karya tulis lainnya sebagai media perjuangan, namun ia juga turut bergerak dan berjuang secara fisik dengan bergerilya, mengagitasi dan memimpin gerakan perlawanan melawan penjajah.
_________________
Penulis:

Khabib Mulya Ajiwidodo
Aktivis, penikmat buku-buku Tan Malaka, Pimpinan Redaksi Srengenge Online


No comments:

Pages