Ziarah ke Makam Tan Malaka - Srengenge Online

Breaking

loading...

Ketik tulisan yang anda cari disini

Sunday, January 29, 2017

Ziarah ke Makam Tan Malaka





Tan Malaka merupakan tokoh besar yang dikukuhkan oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Pada 28 Maret 1963. Namun begitu, kematiannya masih menyisakan misteri, sampai kemudian ditemukan jasad yang identik dengan Tan Malaka di desa Selopanggung Kediri 2014 silam oleh tim pencari makam Tan Malaka yang dipelopori Zulfikar Kamarudin selaku keponakan Tan Malaka.

Setelah mencari berbagai informasi, Pimpinan Redaksi Srengenge.id, Khabib M. Ajiwidodo pun mengunjungi makam Tan Malaka di lereng gunung wilis, desa Selopanggung, kecamatan semen Kabupaten Kediri pada hari Sabtu 28 Januari 2017.

Bersama Istri dan Adiknya, ia berangkat dari Blitar pukul 07.30 dan berhenti untuk sarapan di warung oseng-oseng sekitar kecamatan Kandat. Dari Masjid Agung Kota Kediri, dengan bantuan Google Maps, perjalanan menuju desa selopanggung di perkirakan memakan waktu sekitar 29 menit.

Lokasi tersebut searah dengan jalan menuju air terjun dhoho, jika melalui jalur ke Goa Bunda Maria. Meskipun kabar tentang penemuan jasadnya sudah tersiar sejak lama, namun tidak ada sama sekali petunjuk jalan menuju makam tokoh pengarang buku Madilog ini.

Medan yang ditempuh cukup ekstrem, banyak kelokan tajam dan curam. Kondisi jalanan pun juga sedikit licin. Aspalnya banyak yang rusak. Sekitar 400 meter sebelum lokasi makam, jalanan masih berupa makadam (tanah). Karena malam harinya hujan, pagi itu kondisi jalan begitu becek dan berlumpur. Terpaksa kendaraan diparkirkan, dan perjalanan ke makam pun dilalui dengan jalan kaki.
 
suasana jalan menuju makam
Karena lokasinya di lereng gunung, kita akan disuguhi suasana yang rindang, pepohonan yang masih rimbun dan air sungai yang masih jernih nan segar. Kita juga bisa melihat “watu jago” atau batu-batu besar yang terlihat perkasa.
 
sungai yang bisa ditemui saat menuju makam Tan Malaka
Sampai pada tikungan jalan setapak, dimana ada puluhan anak tangga. Kita harus melewati anak tangga itu untuk sampai ke pemakaman. Ternyata makam Tan Malaka berbaur dengan makam warga, lokasinya pun di pemakaman umum bawah lembah.

Setelah mencari satu per satu, akhirnya ditemukanlah makam Tan Malaka, lokasinya ditengah-tengah. Meskipun Tan Malaka adalah seorang pahlawan, tidak ada perbedaan mencolok dari makam-makam yang lain. Tidak pula dikijing secara khusus.

Di nisannya hanya tertulis, IBRAHIM DATUK TAN MALAKA, PAHLAWAN KEMERDEKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA (KEPRES NO. 53 Tahun 1963, tgl. 28 Maret 1963) Lahir di Suliki Sumatera Barat tahun 1894. Gugur/Wafat di Kediri, 21 Februari 1949.
 
Khabib M. Ajiwidodo berziarah bersama buku-buku Tan Malaka
Tan Malaka meninggal empat tahun setelah kemerdekaan RI diusia 55 tahun. Sepanjang hidupnya, Tan Malaka dikenal sebagai seorang pembela kemerdekaan Indonesia yang berpihak pada golongan sayap kiri. Ia meninggal ditembak dalam posisi duduk dan terikat.

Nama Tan Malaka seolah lenyap dalam sejarah Indonesia pada zaman orde baru. Sejarah tentang Tan Malaka banyak ditulis oleh Sejarahwan asal Belanda bernama Harry A Poeze. Menurut Harry, Tan Malaka adalah seorang tokoh yang memiliki tulisan sejarah Indonesia dari sudut pandang yang berbeda.

Ia dieksekusi mati karena pandangannya atas kepemimpinan nasional pasca ditangkapnya Soekarno-Hatta saat agresi militer II Belanda. Konon karena kemampuannya berbicara, Tan Malaka kemudian dideklarasi sebagai Presiden Republik Indonesia untuk mengisi kepemimpinan Nasional yang sedang kosong.

Terbukanya era reformasi, membuat Pemikiran Tan Malaka kembali dikaji. Harry A.Poeze pun meluncurkan buku “Tan Malaka Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 4: September 1948-Desember 1949”. Buku ini berisi seputar masa-masa terakhir Tan Malaka sebelum tewas ditembak oleh anggota Tentara Republik Indonesia.

Buku-buku Tan Malaka atau yang mengkaji pemikirannya pun mulai beredar luas. Menariknya, Makam Tan Malaka yang kini terletak di Kediri, bersebelahan Kota dengan Makam Bung Karno di Blitar. Bedanya, Makam Bung Karno dipugar sedemikan rupa dan lokasinya dijadikan area wisata. [red.s]

No comments:

Pages