Kenapa Orang PKI Disebut Anti Tuhan? - Srengenge Online

Breaking

loading...

Ketik tulisan yang anda cari disini

Saturday, February 4, 2017

Kenapa Orang PKI Disebut Anti Tuhan?




Waktu kecil kita mungkin pernah mendengar kalau orang PKI itu tidak bertuhan, ateis, dan tidak percaya kehidupan akhirat. Itulah yang membuat resistensi luar biasa ketika isu PKI kembali diangkat. Konfrontasi PKI yang ateis dan kelompok Agama, terutama Islam begitu sengit di masa lalu. Namun ada catatan menarik yang pernah ditulis Ajip Rosidi dalam bukunya yang berjudul Mengenang Hidup Orang Lain, yang diterbitkan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2010.
 
Ajip Rosidi
Ketika Ajip Rosidi menulis Obituari[1] atas meninggalnya A.S Dharta, salah satu sastrawan pendiri Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dan juga anggota PKI, Ajip enggan mengucapkan selamat jalan, itu disesuaikan dengan keyakinan orang-orang komunis yang tidak percaya Tuhan, tidak mengenal akhirat. Sehingga, Ajip berfikir bahwa kematian orang PKI berarti berakhir sudah perjalanannya.

Obituari tentang A.S Dharta tersebut berada di halaman 33-38. Namun tulisan Ajip kemudian dikritik oleh Martin Aleida, yang juga pernah menjadi anggota Lekra. Martin mengkritik Ajip karena enggan mengucapkan selamat jalan kepada mendiang A.S Dharta. Tulisan Ajip itu disebut Martin sebagai taktik kaum fasis untuk menaklukkan musuh-musuhnya, yang menganggap bahwa orang PKI anti Tuhan.

Ajip kemudian menjelaskan di halaman berikutnya (39-43) tentang keraguannya mengucapkan selamat jalan kepada A.S Dharta. Ajib menulis seperti ini :

“Sebagaimana paham komunis, niscaya berpegang pada filsafat materialisme, yang hanya percaya adanya materi, dan menolak percaya yang bukan materi seperti Tuhan, Malaikat dan yang ghaib lainnya. Tidak percaya akan adanya akhirat. Menurut mereka, setelah meninggal orang tamat riwayatnya, karena itu saya ragu untuk mengucapkan selamat jalan kepada Dharta. Karena sebagai seorang materialis, dia niscaya tidak percaya dengan adanya kehidupan lain setelah mati. Dan orang komunis niscaya ateis.”

Tulisan itu kemudian dibaca banyak orang, termasuk A. Makmur K yang mengirimkan surat kepada Ajip, kerabat Dharta tersebut menyesalkan kenapa Ajip Rosidi menyangka Dharta seorang Ateis. Makmur pun menjelaskan bahwa Dharta seorang beriman, keluarga Dharta juga aktif dalam dakwah Islamiah melalui yayasan Al-Fatima, yang diambil dari nama Ibu Dharta.

Lalu dari temannya bernama Ading (RAF), Ajip pun juga mendapat cerita yang mengejutkan. Beberapa bulan sebelum meninggal, A.S Dharta beserta anak dan istrinya berkunjung ke rumah Ading. Istri Dharta kemudian memberitahukan bahwa Dharta sekarang sudah sholat.

Ajip pun berulang kali mengucap istigfar karena merasa bersalah. Ajip telah salah sangka kepada Dharta, ia pun meminta maaf kepada keluarga Dharta. Dalam akhir catatannya di halaman 43, Ajip pun mendoakan semoga Alm. Dharta ditempatkan di tempat yang layak di hadirat-Nya bersama hamba-hamba yang beriman. [red.s]


[1] Obituari : Tulisan untuk mengenang orang yang sudah meninggal

No comments:

Pages