Akhirnya aku di IMM - Srengenge Online

Breaking

loading...

Ketik tulisan yang anda cari disini

Siapakah Paslon Pilgub Jatim Pilihan Anda?

Sunday, March 19, 2017

Akhirnya aku di IMM

Akhirnya Aku di IMM



Kutulis sejarah ini, di depan kantor rumah RSIA Aminah., udara panas, semilir angin kipas angin membantu menyejukkan. Fikiranku melayang ke masa di mana aku masih kuliyah, 10 tahun silam
______oo______

Saat itu Pada akhir tahun 2007, aku masih sangat Junior di kampusku Stikes Surya Mitra Husada kediri, Kampus Ungu, begitu nama kerennya.

“Ayo ikut dialog kebangsaan di Dhoho TV” tiba-tiba agus berkata, yang jelas dengan logat lumajangan. agus sendiri adalah teman kosku. Kelak 3 tahun kemudian agus menjadi sekretaris umum PC. IMM Kediri.

“Acara apa itu” jawabku.

“Acara IMM” jawabnya singkat

“Ayo, IMM itu apa?” jawabku sambil bertanya. IMM, walalaupun aku dilahirkan dalam keluarga Muhammadiyah dimana kakekku adalah salah seorang pendiri Muhammadiyah Watulimo , Trenggalek, akan tetapi nama IMM masih sangat asing di telinga. Maklum, mulai dari TK sampai SMA aku sekolah di pendidikan Negeri, bukan pendidikan Muhammadiyah.

“Grup Pengajian Mahasiswa” begitu jawab singkatnya.

Dari sebuah acara di Dhoho TV itulah awal perkenalannku dengan IMM, dan saat itu pula aku mengetahui bahaawa IMM itu adalah singkatan dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Perkenalanku dengan para pimpinan IMM Kediri dimulai dari sini. Masih ingat bagaimana Mas Cahya (seniorku di kampus ungu. Sekarang ia menjadi dosen di Universitan Muhammadiyah jember), Mas Muslim (Mahasiswa STITM dan ketua PC IMM Kediri saat itu) serta mas Antonius Muslim Widuri (aktis IMM bidang Hikmah, hanya dia yang nada bicaranya seperti negarawan “menurutku”) menyapaku dengan salam yang menunjukkan keakraban walaupun saat baru pertama kali bertatap muka.
__________00__________

Sekitar 2 bulan telah berlalu setelah acara di Dhoho TV tersebut. Hingga akhirnya 2 hari menjelang diesnatalis STIKES, BEM (kala itu aku juga menjadi anggota BEM, sebagai salah satu menteri) mendapat tamu dari OMEK Kediri, dan  IMM-lah yang bersilaturahim saat itu. Kala itu yang hadir dari pihak IMM adalah Mas Muslim, Mas Antonius Muslim Widuri, Mas Mahbuba (saat ini Ia menjadi Lowyers ternama di karisidenan kediri), dan Mbak Aini (Sekarang menjadi ketua umum PWNA Jawa Timur). Dari silaturahim itulah aku sedikit mengerti apa itu IMM, Komponen-komponennya serta segala aktivitasnya di Kediri.

Zaiful Alim, temanku di BEM yang berasal dari Madura (sebuah daerah yang konan katanya 90% Islam, 10% Muhammadiyah) mengatakan ketidaksukaannya pada acara silaturahim tersebut, dari nada bicaranya menunjukkan ketidaksukaannya dengan IMM. Dialah orangnya yang mengajakku keluar di forum silaturahim tersebut. sehingga Pada pertemuan / silaturahim tersebut, aku tidak bisa mengikutinya secara penuh dengan alasan mau menyiapkan acara diesnatalis kampus yang diselenggarakn 2 hari lagi. Namun, Penjelasan-penjelasa singkat yang kudengar dari pimpinan IMM tadi, sudah membuatku tidak buta lagi kepada IMM.

________oo________

Tit..tit..tit.... suara bunyi monoponik Hpku tanda ada pesan masuk.

“mas, bisa ketemu” Muslim IMM”  begitu isi sms-nya. Sms pertama dari pimpinan IMM Kediri, Muslim.

“bisa mas, ada apa” jawab singkat sms-ku

“mau ngasihkan buku IMM” jawabnya

“siap, bertemu di depan kampus STIKES” jawabku

“OK. Tunggu”, setelah membaca sms tersebut aku langsung menuju kampus.

Dalam pertemuan tersebut Ada sesuah kata-kata yang berkesan sampai sekarang. Ketika itu,  aku bertanya kepada dia “harga bukunya ini berapa mas?”

Dan di jawab “tidak usah dibayar, IMM tidak membiasakan seperti itu, ber-IMM itu ikhlas”

Judul buku tersebut adalah “ke-IMM-an, panduan mengenal Ikatan mahasiswa Muhammadiyah”. Itulah buku IMM pertamaku.

Setelah pertemuan itu, aku,  agus setyo P dan Mas cahya mulai aktif mengikuti kajian-kajian IMM di STITM “Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah” Kediri.

Saat itu walalaupun di stikes belum berdiri IMM, akan tetapi ada beberapa mahasiswanya yang sudah aktif mengikuti kegiatan-kegiatan IMM kediri, seperti Mbak Lifna, Mbak Lingga (sekarang menjadi dosen stikes), mas awi (programer), mas cahya, dll semuanya itu adalah seniorku dan mereka adalah pengurus Rohis Stikes, karena di kampusku belum membentuk kepengurusan IMM maka dari itu pusat segala aktivitas IMM masih berada di STITM Kediri.

__________oo__________

Waktu terus berjalan

Tiba saat IMM kediri menggelar perhelatan terbesarnya yaitu Musyawarah Cabang, kala itu bertempat di AULA kantor PD. Muhammadiyah Kota Kediri. Diacara tersebut, untuk pertama kalinya aku berkumpul dengan seluruh aktivis IMM se kediri raya. Walaupun banyak agenda –agenda yang bagiku sangat asing, LPJ-an, Forum Rekomendasi, Debat kandidat, Persidangan, dll, tapi aku tetap mengikutiya dengan seksama.

Di akhir acara musycab tepatnya waktu ishoma, aku dan agus setyo di hampiri oleh mbak aini dan mas muslim. Ke 2 aktivis tersebut menanyakan perihal kondisi dakwah IMM di Stikes.

“Dikarenakan belum ada komisariat IMM di stikes, maka dakwah IMM disana berjalan lambat” begitulah penjelasanku.

“kenapa kok tidak di bentuk komisariat” tanya mbak ini.

“sebenarnya ingin begitu, tapi siapa yang  menjadi ketuanya, mas cahwa dan teman-teman stikes yang lain sudah sibuk praktek” jawabku

“kenapa tidak kamu saja bib” pinta mbak ini secara tiba-tiba.

“bagaimana kalau agus saja mbak, karena dia yang pertama kali mengajakku di IMM” jawabku sambil bertanya dan menoleh kepada Agus.

“tidak apa – apa bib, agus ketua komisariat dan kamu sekretarisnya. Bagaimana gus, siap ?!!!” sambung mbak aini sambil memberi penekanan kepada agus.

“insyaallah siap mbak” jawab agus dengan nada yang mantap.

“kalau begitu kita beri nama komisariat Asy-Syifa, yang melambangkan pusat kesehatan IMM Kediri” pungkasku.

Musycab akhirnya dapat terlaksana dengan baik,  mas muslim terpilih menjadi ketua PC. IMM kediri untuk kedua kalinya, dan hasil yang paling berharga adalah berdirinya komisariat asy-syifa stikes surya mitra husada.

_________oo_________

Pasca Musycab IMM kediri, hari-hari ku di penuhi dengan aktivitas-aktivitas organisasi, baik BEM maupun IMM. Dengan tanggung jawab yang berat, yaitu mengembangkan IMM di kampus stikes, yang mana di kampus ini 40% mahasiswanya adalah non muslim.

Untuk mengembangkan komisariat, aku dan pak ketua mengumpulkan teman-teman kampus, hingga akhirnya terbentuk susunan pengurus komisariat. Zaiful alim yang dulu begitu sinis terhadap IMM, akhirnya juga berkenan menjadi pengurus komisariat. Perlu diketahui, seluruh pengurus komisariat saat itu bukan berlatar belakang keluarga Muhammadiyah serta belum mengikuti darul Arqom dasar (DAD) termasuk aku dan agus (ketua). Memang untuk bermuhammadiyah dan menjadi aktivis Muhammadiyah  harus membutuhkan proses, termasuk lewat IMM ini.

Salah satu agenda andalah komisariat waktu itu adalah NAB “Noto Ati Bareng” dengan komposisi kajiannya adalah tadarus al-qur’an, tafsir al-qur;an, dan wawasan keislaman. Kala itu pesertanya dari mahasiswa tidak sampai 10 orang, yang paling menarik adalah anggota satpam kampus dan beberapa dosen juga menjadi peserta aktif kajian NAB tersebut. Kajian NAB tersebut dibarengi dengN NYELENG, yaitu berupa memberikan infaq setiap kali pertemuan, dana infaq nantinya akan diberikan kepada pihak yang membutuhkan.

Cara lain untuk memikat mahasiswa agara mau ke IMM adalah dengan cara mengajak mahasiswa bakti sosial, camping, jalan-jalan sehat tiap minggu pagi, beli stand bazar di setiap ada acara kampus, dls.

Walaupun begitu banyaknya acara komisariat, aku juga selalu di ajak untuk aktif mengikuti kegiatan cabang. Waktu itu PC IMM kediri mendapatkan proyek penghijauan kota (IMM dapat bantuan 10.000 pohon glodok) dan juga sedang membuka usaha atau BUMI “Badan Usaha Milik Ikatan”, dengan bisnisnya adalah Bakso, yang diberi nama “bakso melati merah”. Pengurus dan chef bakso melati merah (bakso MM)  adalah pengurus IMM sendiri, ada immawati jaustin, eva, ifa, robert, mahbuba, antonius.

Promosi yang dilakukan oleh team bakso MM (Melati Merah) adalah mengikuti setiap ada event di berbagai kampus di kediri. Salah satunya di UNP kediri. Kala itu yang menjaga stand bakso MM di kampus UNP kediri adalah aku dan Moh. Mahbuba. Banyak kenangan mengaharukan waktu menjaga stand ini. Antara lain: karena tidak punya uang saku, kami sampai meminum teh botol sosro sisa orang lain. Pentol yang sudah sedikit bais kami jemur kemudian di goreng dan kami makan. Tapi alhamdulillah tetap sehat  dan tidak keracunan.

Pada saat booming bakso MM di kalangan mahasiswa muhammadiyah, aku (stikes), agus (stikes), mubin (stitm) , ulum (stitm), dan wasis (stitm) di berangkatkan ke malang untuk mengikuti DAD di fakultas teknik UMM, Aufklarung

Selanjutnya, muusyawarah pertama Komisariat Stikes diperhelatkan, dengan hasil mengamanahi Ajib Farhan Nurias sebagai ketua PK Asy-Syifa generasi kedua.

________oo________

Musycab IMM Kediri kembali digelar, dengan ketua terpilih adalah Muh. Mahbuba dan sekretarisnya adalah Muslim, aku di beri tugas menjadi ketua bidang kader PC IMM kediri. Sebelum kepengurusan ini habis, DPD IMM Jatim menggelar Musyawarah Daerah di Gresik, waktu itu calon dari kediri adalah Muslim yang mana saat itu masih menjabat sebagai sekretaris PC IMM Kediri. Dikarenakan hal tersebut maka diadakan resafle mendadak yang bertempat di masjid UM Gresik dengan di hadiri seluruh jajaran pimpinan cabang dan pimpinan komisariat. Refasle tersebut menghasilkan keputusan “merelakan mas muslim ke tingkat DPD Jatim, dan mengamanahi Khabib Mulya Ajiwidodo sebagai Sekretaris PC. IMM kediri”.

Kemudian aku menjabat sebagai sekretaris PC IMM kediri sampai berlangsungnya Musyawarah cabang berikutnya.
­_______0______

Musyawarah cabang kembali di gelar. Kali ini aku di amanahi oleh kawan-kawan menjadi ketua cabang IMM Kediri (ketua cabang IMM Kediri generasi ke 4). Banyak suka duka menjadi seorang ketua, mulai bagaimana mengatur rumah tangga organisasi, sampai hubungan dengan organisasi di luar IMM.

Kala masa ini, pada saat mastama bersama IMM Tulungagung di pantai sine  dideklarasikanlah Gepeng’S (Gerakan Petualang Sejati), sebuah wadah bagi mahasiswa pecinta alam. Gepeng”S ini juga berfungsi sebagai alat perkaderan IMM.

Pada masa ini juga terbit buletin “Fast-Kho” yang memberikan wadah bagi aktivis IMM yang cinta menulis dan berbagi salam.

Bakti Sosial bina desa dan kesehatan juga digalakkan. Desa-desa yang rawan kristenisasi menjadi  prioritas IMM.

Kajian Rujak’an, adalah sebuah wadah silaturahim dengan berkunjung dari rumah kader ke rumah kader yang lain.

Suatu ketika aku juga pernah di adili oleh para pimpinan kampus karena telah mengkoordinir mahasiswa stikes surya mitra husada untuk aksi galang dana di jalan serta demontrasi tanpa ijin dulu dari kampus

Pasca Musyda IMM Jatim di lLamongan dengan ketua terpilih saudara Ali Muthohirin, PC IMM Kediri bersama kawan-kawan se-mataraman (T.agung, kediri, nganjuk, ponorogo, pacitan) membentuk suatu forum yang tujuannya untuk mempermudah silaturahim serta memasifkan perkaderan. Kekuatan ini djuga di dukung oleh IMM Jember dan Lumajang dari wilayah Tapal Kuda. Akhirnya kedua kekuatan ini (Mataraman dan Tapal Kuda) di gabungkan dan diberibana MATA-KUDA. Akan tetapi kekuatan yang besar ini tidak ada yang mampu merawatnya sehingga bubar di tengah jalan, dengan di tandai bergantinya kepengurusan di masing-masing cabang IMM  se mata-kuda.

Dengan terpilihnya Moch. Bahrul Ulum pada Musyawarah cabang IMM kediri, menandai tanggung jawabku di struktural imm kediri sudah purna tugas.

______oo_______

Berjuang di IMM tidak berhenti di kediri, ketika aku berpindah ke Blitar, pada tahun 2014 kau bertemu dengan mas atim (pemuda muhammdiyah , ibnu (ketua IPM Blitar, latifah (IPM Blitar), dan mas fuad (pemuda muhammadiyah) dan membentuk PC. IMM Blitar

Pembentukan PC IMM Blitar sendiri berada di kontrakankua Jl. Ternate Gg, Seram sehabis menyantap buka puasa Ayamul Bidh.

______oo______

Sesuai dengan sejarah, Ada dua peninggalan kader IMM Kediri

1.     Muslim (ketua PC IMM Kediri ke-2) berhasil mendirikan PC IMM Tulungagung

2.     Dan aku (Ketua PC IMM Kediri ke 4) dengan bantuan banyak teman berhasil mendirikan PC IMM Blitar

Semuanya itu dilandasi dengan sifat “Ikhlas” sebuah ilmu pertama dan tertinggi yang aku dapatkan dari IMM kediri. ... IMM tidak membiasakan seperti itu, ber-IMM itu ikhlas”

Ber-IMM-lah dimanapun kita berada “adanya disegani – tiadanya dicari, itulah ciri kader Ikatan.

_______oo_______
Galery Photo

ketika di IMM Kediri


demontrasi di depan polres kota kediri

aksi teatrikal

pasca semarak muktamar di yogyakarta. bermain di parang tritis

serba serbi musyawarah cabang IMM kediri ke 3

Ketika di IMM Blitar






___________________
Kisah ini aku ditulis sendiri:

Khabib Mulya Ajiwidodo


Pages