PEMIKIRAN HASAN HANAFI (bag.1) - Srengenge Online

Breaking

loading...

Ketik tulisan yang anda cari disini

Monday, March 27, 2017

PEMIKIRAN HASAN HANAFI (bag.1)

PEMIKIRAN HASAN HANAFI (bag.1)


Hasan Hanafi lahir pada 13 Februari 1935 di Kairo, Mesir di dekat Benteng Salahuddin, daerah Perkampungan Al-Azhar. Perkampungan ini dekat dengan Universitas Al-Azhar dimana tempat ini merupakan tempat bertemunya para mahasiswa muslim dari berbagai dunia. Tradisi keilmuan berkembang disana sejak lama. Meskipun lingkungan sosialnya dapat dikatakan tidak terlalu mendukung. Menurut sejarah dan kebudayaan kota Mesir telah dipengaruhi oleh peradaban-peradaban besar sejak masa Fir’aun, Romawi, Bizantium, Arab, Mamluk da Tukri dan bahkan Eropa Modern. Hasan Hanafi adalah filusuf hukum Islam serta guru Besar Fakultas Filsafat Universitas Kairo

Logika Pembaharuan Bahasa

Bahasa Illahi diawal penyebaran peradaban untuk mengeksprsikan agama baru. Misalnya kata Allah memiliki konstansi kesadaran idealis dalam kesadaran arab lama, tetapi ketika peradaban mulai berkembang maka bahasa Illahi mulai mundur dan digantikan oleh bahasa akliah murni, sebagaimana nampak jelas dalam usuluddin belakangan dan tampak lebih jelas lagi dalam ilmu ilmu hikmah.

Bahasa lama adalah bahasa yang di dominasikan oleh kata kata yang menunjuk kepada objek-objek keagamaan murni seperti din, rasul, mujizat dan kenabian. Kelemahan bahasa lama:

a.Bahasa dalam turas klasik kita adalah bahasa sejarah yang lebih banyak mengeksprsikan fakta fakta histories ketimbang pemikiran.

b.Bahasa dalam turas klasik itu bersifat teknis yang mengumpulkan dan meletakkan wujud kedalam kerangka-kerangka. Misalnya ada kodifikasi istilah dalam ushul fiqih pembagian pembagian akidah dalam ushuludin dan filsafat. Bahasa dalam turas kelask itu adlah bahasa formal murni. Ada sejumlah wujud menjadi mungkin, wajib, mustahil, jauhar, aurad, dalam ilmu ushuluddin dan hikmah.

c.Bahasa yang ditolak oleh zaman walaupun bahasa lama, tidak mungkin di gunakan kembali.

Bahasa baru berusaha mengkoreksi cacat-cacat bahasa traisional yang menghambat ekspresi dan komunikasi, disamping berusaha mengnati kehususan kehususannya dengan kehususan kehususan yang lain yang mempermudah mengekspreikan isi dan kecermatan makna yang dituntut.

Kehususan kehususannya itu adalah :

a.Bahasa baru harus umum, bahkan yang paling umum sehingga dapat dipakai untuk berberbicara dengan semua tingkatan pikiran.

b.Bahasa baru harus terbuka dapat dirubah dan diganti adakalnya dalam pemahaman pemahaman makna makna bahkan eksistensinya.

c.Bahasa baru harus rasional sehingga dapat digunakan untuk mengkomukasikan makna.

d.Bahasa baru haruslah memiliki kata dalam indra dan empiri, shingga dapat menetukan makna maknanya dan kembali kepada realitas sebagai penentu makna makna dan sebagai refleksi jika makna makna itu kontradiksi.

e.Bahasa baru haruslah bahasa kemanusiaan yang tidak mengekspresikan kecuali kategori manusiawi seperti analisi, kerja, praduga, kepastian, maksud, aksi, zaman, dan pendorong.

Logika pembaharan bahasa mengorbankan sejumlah kehati-hatian bukan dalam masalah metode tetapi dalam masalah kesimpulan kesimpulannya, karena telah terekspose pada kekuatiran kekuatiran hakiki yang menyebabkannya hanya sebagai omong kosong dan permainan dengan kata kata yang tidak merubah apa apa.

Yang terpenting dari kehawatiran kehawatiran itu adalah :

1.berlaga atau pamer konsep konsep baru tanpa memahami isinya, tanpa meneliti sumber sumbernya dan tanpa mengetahui apa yang akan terjadi jika konsep konsep baru itu di gunakan untuk menganti kata kata tradisional yang cacat.

2.fanatisme mazhab yang membawa pada semacam kesewenangan wenangan dalam proses proes pemabaharuan bahasa dengan cara memilih satu jenis kata kata yang tertutup untuk mengekspesikan satu makna yang ditunjuk oleh kata tradisional agar memebri cap pemikiran baru dengan cirri mazhab khusus.

3.Niat buruk, yaitu ekstrim dalam berfanatik mazhab sampai sejauh mungkin. (Red.S)

No comments:

Pages