PEMIKIRAN HASAN HANAFI (bag.2) - Srengenge Online

Breaking

loading...

Ketik tulisan yang anda cari disini

Wednesday, March 29, 2017

PEMIKIRAN HASAN HANAFI (bag.2)

PEMIKIRAN HASAN HANAFI (bag.2)



Hasan Hanafi adalah tokoh pemikir modern dan penggerak dalam dunia islam. Ia mempunyai berbagai pemikiran yang reformis dan revolusioner dalam pembaharu pemikiran-pemikiran islam. Ide-ide pemikiran ini berada pada berbagai bidang, tetapi hanya beberapa pemikiran beliau yang sangat fenomenal dan sangat berpengaruh hingga sekarang.
Beberapa inti pemikiran beliau adalah tentang Kiri Islam yaitu bentuk perlawanan “politik” dalam memperbaiki kehidupan masyarakat dalam menghadapi kenyataan. Teori ini ingin menghapus adanya sekat-sekat yang ada dalam realitas masyarakat seperti tuan dengan hambanya, atasan dengan bawahannya, si kaya dan si miskin, dll.
Inti pemikiran yang kedua yaitu dengan tentang Hermeneutika Al-Quran. Pemikiran mengkritik tentang model penafsiran klasik yang hanya berkutat menafsirkan yang berhubungan dengan teosentris saja tanpa ada pengaruh terhadap realita kehidupan. Ia juga memberikan model-model penafsiran yang berhubungan keadaan sekarang.
Pemikiran yang ketiga adalah tentang oksidentalisme, dimana ia orang pertama yang mencetuskan tentang term oksidentalisme. Pemikiran ini muncul sebagai reaksi dia terhadap hegemoni bangsa barat yang selalu mendominasi setiap unsur kehidupan.
Mungkin ini adalah gambaran sekilas tentang pemikiran hasan hanafi yang dapat kami sampaikan. Tentunya banyak sekali pemikiran dari Hasan Hanafi yang belum sempat terbahas. pembahasan di atas hanyalah sebagian kecil dari hasil pemikirannnya.
Turas Dan Tajdid Dan Penyatuan Ilmu Ilmu
Turas adalah segala sesatu yang sampai kepada kita dari masa lalu dalam peradaban yang dominant, sehingga merupakan masalah yang diwarisi sekaligus mesalah penerima yang hadir dalam berbagai tingkatan. Turas merupakan titik awal sebagai tangungjawab kebudayaan dan bangsa. Tajdid adalah penafsiran ulang atas turas sesauai dengan kebutuhan kebutuhan zaman , karena yag lama mendahului yang baru. Turas adalah peranatara sedangkan tajdid adalah tujuan.

Jadi turas dan tajdid berusaha menegaskan persoalan persoalan perubahan social scara alamiah dan dalam kerangka sejarah, yang dimulai dengan asas dan syarat sebelum yang di bangun dan di syariati.

Turas dan tajdid mencerminkan proses peradaban yaitu pengungkapan sejarah, sebagai kebutuhan yang sangat mendesak dan tuntunan revolusioner dalam kesadaran kentemporer kita. Turas dan tajdid mengkaji tentang jati diri dengan cara menukik ke dalam masa kinidengan menjawab pertanyaan siapa kita.?

walaupun turas telah memberi kita empat ilmu rasional yang luar biasa yaitu kalam, filsafat, tasawauf dan ushul fikih, hanya saja tujuan akhir turas dan tajdid adalah penyatuan ilmu ilmu dalam satu ilmu yang sinonim dengan peradaban itu sendiri. Sebab semua ilmu itu berusaha untuk memahami dan merubah wahyu menjadi teori seperti ada dalam kalam dan filsafat.

Penyatuan ilmu-ilmu merupakan peresolan yang mungkin, karena setiap ilmu menunjuk kepada ilmu-ilmu lain dengan komparasi dan seringkali dengan falsifikasi dan kritik. Dalam ilmu kalam misalnya terdapat kritik aras filsafat, khusunya menganai hal hal yang berkaitan dengan falak-falak, makna makna akal akal. Kadang kadang sebagian kajian fikih dan ushul fiqih tercakup dalam satu poin bersama dalam kajian kajian bahasa, qiasa dan ijtihad.

Penyatuan ilmu-ilmu merupakan suatu yang mungkin dengan cara mengambil semua yang diberikan oleh ilmu ilmu tradisional dan apa yang memnuhi tuntutan tuntutan zaman. Misalnya pengukuhan kebebasan dalam ilmu tauhid akal, amal dan musyawarah.

Jika turas telah memberi kita ilmu ilmu rasional, yang mengeksprsikan puncfak tertinggi pencapainnya yaitu rasionalisasi nash dan analisi wahyu jika tajdidi dengan kemampuannya merubah ilmu ilmu trasisional ini menjadi ilmi ilmu kemanusiaan, maka zaman sekarang ingin mealangkah jauh lebih maju yaitu merubah ilmu ilmu kemanusiaan sebagai warisan ilmu ilmu tradisional menajdi idiologi. Itulah tujuan tertinggi turas dan tajdid.

Dalam Al-Yasar al-Islami (Kiri Islam) tersebut, Hassan Hanafi mendiskusikan bebarapa isu penting berkaitan dengan kebangkitan Islam. Secara singkat dapat dikatakan, Kiri Islam bertopang pada tiga pilar dalam rangka mewujudkan kebangkitan Islam, revolusi Islam (revolusi Tauhid) dan kesatuan umat. Pilar pertama adalah revitalisasi khazanah Islam klasik. Hassan Hanafi menekankan perlunya rasionalisme untuk merevitalisasi khazanah Islam. Rasionalisme merupakan keniscayaan bagi kemajuan dan kesejahteraan Muslim, disamping untuk memecahkan situasi kekinian di dalam dunia Islam. Pilar kedua adalah perlunya menentang peradaban Barat. Ia memperingatkan pembacanya akan bahaya imperialisme kultural Barat yang cenderung membasmi kebudayaan bangsa-bangsa yang, secara kesejarahan, kaya. Ia mengusulkan "Oksidentlisme" sebagai jawaban "Orientalisme" dalam rangka mengakhiri mitos peradaban Barat. Pilar ketiga adalah analisis atas realitas dunia Islam. Untuk analisis ini, ia mengkritik metode tradisional yang bertumpu pada teks (nash), dan mengusulkan suatu metode tertentu, agar realitas dunia Islam dapat berbicara bagi dirinya sendiri. Menurut Hassan Hanafi, dunia Islam sedang menghadapi tiga ancaman, yaitu imperialisme, zionisme dan kapitalisme (dari luar) serta kemiskinan, ketertindasan dan keterbelakangan (dari dalam). Kiri Islam berfokus pada problem-problem era ini. (Red.S)

No comments:

Pages