Transformasi Kepemimpinan Muhammadiyah, Dari Kyai ke Akademisi - Srengenge Online

Breaking

loading...

Ketik tulisan yang anda cari disini

Wednesday, April 26, 2017

Transformasi Kepemimpinan Muhammadiyah, Dari Kyai ke Akademisi




Pendiri Muhammadiyah adalah seorang Kyai. Meski bukan Kyai yang mendirikan Pesantren, melainkan Kyai Khetip dari Abdi dalem keraton. Artinya, Kyai Ahmad Dahlan adalah Kyai-nya penguasa kerajaan Islam Mataram.

Secara struktur, tentu sangat sulit bagi Kyai keraton untuk melawan arus. Apalagi di tengah budaya Jawa yang sangat kental kala itu. Kyai Dahlan berani berpendapat yang berbeda, bahkan menyalahkan arah kiblat Masjid Gede. Itu bukan sesuatu yang lazim. Hanya orang-orang pemberani, yang bisa melakukan hal itu.

Dari latar pendidikan pun, Kyai Dahlan memang tidak bisa disebut akademisi. Tidak pernah menempuh pendidikan formal, juga gelar akademik. Berbeda dengan pendiri Budi Utomo, Dr. Soetomo dan Dr. Wahidin Sudirohusodo.

Mungkin sekarang orang mengira jika Muhammadiyah, terutama pucuk kepemimpinannya, lebih banyak kaum akademisi, ketimbang Kyai. Bahkan lambat laun citra “kepemimpinan Kyai” makin memudar, meskipun pendirinya sendiri, sampai Ketua Umum pada beberapa generasinya, adalah seorang Kyai.

Bahkan, meskipun Muhammadiyah juga memiliki pesantren atau sekolah Islam, tapi sangat jarang pendiri/pengelolanya yang disebut Kyai. Citra sebagai akademisi cenderung lebih kuat.

Sejak berdiri tahun 1912, tercatat ada 15 Tokoh yang pernah menjadi ketua Umum. Dari 15 tokoh tersebut, hanya ada 5 yang tidak dikenal luas sebagai Kyai. Seperti Ki Bagus Hadikusumo, yang mejabat antara tahun 1944-1953, dan merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah kelima.

“Ki” merupakan sebutan khusus bagi tokoh Jawa. Selain itu Kiprah Ki Bagus Hadikusumo lebih banyak dalam hal kenegaraan, seperti menjadi Anggota BPUPKI dan PPKI.

Kiprah lainnya adalah di bidang seni, terutama dalam bidang sastra. Baik sastra Jawa, Melayu, bahkan Belanda.

Setelah itu, Muhammadiyah memang tidak dipimpin seorang Kyai. Namun bergelar Buya, yaitu Buya A.R Sutan Mansur. Buya merupakan gelar kehormatan dari suku Minang. Meski demikian, rekam jejaknya sebagai guru, terutama di Sumatra Thawalib, juga posisinya sebagai Majelis Tabligh Pusat, dalam kultur Jawa aktivitas itu identik dengan Kyai.

Gelar Kyai sendiri memang gelar khusus di Jawa. Awalnya bukan disematkan pada orang, melainkan pada barang-barang yang di sakralkan. Lalu paradigma itu kemudian beralih, gelar Kyai disematkan kepada orang yang tekun belajar agama, dan mengajarkannya. Terutama di Pesantren-pesantren.

Setelah Buya A.R Sutan Mansur, Muhammadiyah dipimpin oleh Kyai. Mulai dari KH. M. Yunus, KH. Ahmad Badawi, KH. Faqih Usman, KH. AR Fachrudin, dan KH. Ahmad Azhar Basyir. Baru pada tahun 1995, Muhammadiyah dipimpin oleh Akademisi-Intelektual yang bergelar Profesor, yaitu Prof. Dr. H. Amien Rais.

Menurut Haedar Nashir, ketika dipimpin Amien Rais, gerakan Intelektual di Muhammadiyah semakin masif. Bahkan dalam beberapa struktur kepengurusan, bermunculan banyak Profesor dan Doktor. Citra kepemimpian akademisi mulai terbentuk disini.

Meskipun sejumlah pengamat menilai, bahwa bibit intelektualisme dalam diri Muhammadiyah sudah ada sejak era KH. Ahmad Dahlan. Salah satunya melalui keterbukaan berfikir, juga gerakan dakwah sosial yang kala itu nyaris tidak tersentuh kelompok Islam yang lain.

Ketika dipimpin Amien Rais, Muhammadiyah pun juga semakin tajam mengkritisi rezim. Gerakan politiknya semakin masif. Meskipun sebelumnya, Muhammadiyah termasuk memiliki hubungan baik dengan Presiden Soeharto. Ciri kuat kepemimpinan akademisi yang diperlihatkan Amien Rais, adalah keberaniannya melemparkan kritik kepada rezim dengan argumentasi yang kuat.

Meskipun Amien Rais tidak sampai satu periode memimpin Muhammadiyah karena menjadi Ketua MPR RI. Posisinya kemudian digantikan oleh Prof. Dr. H. Ahmad Syafi’i Maarif. Selain meneruskan sisa-sisa kepengurusan Amien Rais, Syafii Maarif pun akhirnya juga terpilih menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2000-2005.

Syafii Maarif memang bergelar Buya, sebagaimana A.R Sutan Mansur, karena sama-sama dari Sumatra Barat. Di wikipedia, juga ditulis KH. Meskipun aktivitas Ahmad Syafii Maarif lebih banyak di dunia kampus, sebagai dosen dan akademisi. Barangkali gelar Kyai yang disematkan ke Buya oleh kontributor wikipedia dikarenakan posisinya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Era kepemimpinan Ahmad Syafii Maarif termasuk era yang sulit bagi Muhammadiyah. Setelah lengsernya Presiden Soeharto, dua kepemimpinan berikutnya tidak bertahan lama. Yaitu era B.J Habibie dan Gus Dur.

Bahkan, pasca dilengserkannya Gus Dur oleh MPR. Dimana kala itu MPR diketuai oleh Amien Rais yang notabene tokoh Muhammadiyah, terjadi konflik akar rumput antara NU, terutama Gusdurian, dengan warga Muhammadiyah. Bahkan beberapa sekolah Muhammadiyah rusak dan dibakar.

Namun kedekatannya dengan Ketua PBNU kala itu, KH. Hasyim Muzadi dan Megawati Soekarno Putri yang akhirnya menggantikan Gus Dur sebagai Presiden, membuat konflik tidak berlangsung lama. Energi kepemimpinan Buya pun lebih banyak digunakan untuk memulihkan stabilitas sosial pasca konflik.

Namun pada era Buya Syafii Maarif inilah gerakan Intelektual di Muhammadiyah seolah mengalami masa puncaknya. Lahirnya Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah yang dimentori oleh Moeslim Abdurrahman. Beberapa kadernya pun kemudian bertebaran sekolah keluar negeri, sehingga Muhammadiyah kemudian “panen master dan doktor”.

Meski JIMM pada awalnya disebut merupakan gerakan liberal dan lain sebagainya, namun pada era itulah jumlah kader Muhammadiyah yang sekolah keluar negeri makin meningkat. Baik ke Amerika, Eropa, Australia, Jepang, Kanada, dlsb.

Pada era itu, hampir berbagai opini di media massa dipenuhi oleh tulisan kader-kader Muhammadiyah. Kini, beberapa kader telah kembali dan menjadi lokomotif gerakan intelektual, sosial, maupun filantropi.

Berikutnya, Ketua Umum beralih ke Prof. Dr. H. Din Syamsudin, MA. Meski dalam beberapa tulisan ada gelar KH yang disematkan, namun background Din Syamsudin lebih kepada akademisi, jika merujuk pada gelar akademiknya.

Mungkin karena beliau pernah menjadi Ketua MUI, dan karena rata-rata Ulama di MUI bergelar Kyai, Maka gelar KH pun juga lantas disematkan kepadanya.

Din Syamsudin termasuk ketua yang sangat aktif dalam berbagai forum dunia, sebagaimana Prof. Dr. Amien Rais dan Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Prof. Din Syamsudin juga alumnus Amerika, tepatnya di University Of California Los Angeles (UCLA). Beliau memimpin Muhammadiyah selama dua periode, 2005-2015.

Ketua kemudian berganti ke Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. Sebelumnya, Haedar Nashir adalah Pimpinan Redaksi Suara Muhammadiyah, dan pernah menjadi Sekretaris Umum ketika era Ahmad Syafii Maarif.

Haedar Nashir memiliki darah Kyai. Ayahnya adalah seorang Ajengan, sebutan untuk tokoh agama seperti Kyai di Jawa Barat. Kalau di Jawa Timur atau Jawa Tengah, Haedar Nashir bisa disebut Gus, artinya putra dari seorang Kyai.

Namun aktivitas Haedar Nashir berada di Kampus, bukan di Pesantren. Kini, meskipun sosoknya kerap disebut sebagai kyai, namun sesungguhnya sisi akademisi Haedar Nashir sangat menonjol. Banyak buku yang telah ditulis, terutama yang berkaitan dengan Muhammadiyah. Sosoknya dikenal sebagai “ideolog kontemporer” karena banyaknya menghasilkan tulisan yang berkaitan dengan ideologi dan gerakan Muhammadiyah.

Di tangan Haedar Nashir, wajah Intelektual Muhammadiyah mulai menemukan bentuknya secara lebih kongkrit. Jika era Ahmad Syafii Maarif dan Din Syamsudin adalah masa penggodokan kader-kader Intelektual, pada era Haedar Nashir mereka masuk ke dalam struktur dan mengaplikasikan ilmunya secara langsung.

Di Muhammadiyah sendiri, figur Haedar memang dikenal sebagai Intelektual-Akademisi. Hal itupula yang pernah diungkapkan Din Syamsudin, ketika ditanya wartawan tentang figur Haedar Nashir.

Kultur Muhammadiyah
Muhammadiyah memang lekat dengan kultur anti feodal. Tidak ada pengkultusan tokoh secara berlebih. Hal tersebut bahkan dipraktekkan langsung oleh KH. Ahmad Dahlan dalam setiap pengajiannya.

Jika selama ini pengajian hanya terpusat pada Kyai, dimana santri hanya duduk mendengarkan secara pasif. Maka dirubah, santri lah yang mengajukan pertanyaan. Bahkan disatu sisi boleh mengajukan protes. Bertanya merupakan bagian penting dari proses belajar, dan itu merupakan tradisi akademik.

Kultur akademik juga semakin menguat ketika Muhammadiyah mulai mendirikan Perguruan Tinggi pada awal tahun 60-an. Sehingga, tokoh-tokoh Muhammadiyah berikutnya lahir dan terpusat di Kampus, bukan Pesantren. Fokus pengembangan kelembagaan pun juga lebih banyak di Perguruan Tinggi dan Sekolah, daripada Pesantren.

Padahal, Kyai itu adalah orang yang lahir di Pesantren. Dalam Tradisi Jawa, seseorang disebut Kyai karena dua alasan. Pertama, memiliki pesantren. Kedua, memiliki Masjid/Mushola dan memangku kegiatan keagamaan masyarakat sekitar.

Di Muhammadiyah, jumlah pesantren kalah berkembang dibandingkan Perguruan Tinggi atau Sekolah. Bahkan sebagian besar lembaga Pendidikan pun dimiliki oleh Persyarikatan, bukan Individu.

Ciri kepemimpinan Akademik
Kepemimpinan akademisi memiliki ciri khas tersendiri, sebagaimana kultur akademik. Kepemimpinan akademik bersifat dialogis, mengedapankan unsur-unsur dialog dibandingkan instruksi. Tidak dikenal istilah Taqlid, atau pengkultusan tokoh tertentu.

Segala hal harus diterima dengan rasional dan argumentatif. Maka ada istilah, Muhammadiyah itu bisa berbaris, namun sulit berkumpul. Sehingga, ketua Umum sulit untuk mengeluarkan fatwa secara verbal. Kalaupun ada, biasanya berbentuk surat edaran resmi.

Ini sangat berbeda dengan kultur Kyai, dimana titah Kyai kepada santri dan pengikutnya hampir pasti diikuti, karena rasa hormat yang mendalam kepada Kyainya. Bahkan hampir tak ada yang berani membantah Kyai.

Memang keduanya memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Meski Ketua Umum PP Muhammadiyah sebagian besar adalah Kyai, namun istilahnya adalah Kyai berdasi. Berdasi mencitrakan modernitas, keterbukaan, termasuk dalam konteks dialog. Juga kebaruan dalam kepemimpinan.

Muhammadiyah secara kultur berhasil mentransformasikan kepemimpinan Islam di Indonesia, ketika seorang akademisi menjadi nahkoda sebuah Organisasi Islam yang gerakannya tajam ke arah sosial-masyarakat. Bukan hanya ibadah-ritual. Hal yang mungkin susah dicapai oleh Organisasi manapun, yang belum melakukan transformasi kepemimpinan. [red.s]

No comments:

Pages