Jihad dan Etika Berbangsa dalam Menanggulangi Paham Radikalisme dan Terorisme - Srengenge Online

Breaking

loading...

Ketik tulisan yang anda cari disini

Sunday, November 5, 2017

Jihad dan Etika Berbangsa dalam Menanggulangi Paham Radikalisme dan Terorisme



Oleh Dr. Arif Muzayin Shofwan

Munculnya aksi kekerasan dan radikalisme atas nama agama menjadi isu yang sangat menarik di bumi Indonesia yang penuh keragaman suku, budaya, etnis, agama, dan semacamnya. Terlebih lagi atas nama jihad, aksi-aksi tersebut banyak meresahkan masyarakat yang sejak dulu sudah mempunyai semboyan “bhinekka tunggal ika tan hana dharma mangruwa”, yakni berbeda-beda tetapi tetap satu jua dan tak ada kebenaran yang mendua.

Pertanyaannya adalah sudahkan kita semua sebagai generasi penerus bangsa ini benar-benar memahami makna jihad seperti yang telah disampaikan oleh Muhammad Sang Nabi Pencerah zaman?. 

Benarkah makna jihad yang kita pahami benar-benar mencerminkan nilai-nilai Islam yang adi luhung?. Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang seharusnya terus kita gali dan pahami bersama, kemudian kita praktekkan bersama pula.

Sebenarnya, beberapa ulama fikih menyatakan bahwa jihad itu dibagi menjadi tiga macam, yaitu (1) jihad memerangi musuh secara nyata; (2) jihad melawan setan; dan (3) jihad terhadap dirinya sendiri. 

Jihad melalui ketiga hal tersebut sesungguhnya telah mencakup seluruh ibadah yang bersifat lahir maupun batin sebagaimana yang telah diteladankan oleh Rasulullah di Makah dan Madinah. 

Dalam al-Qur’an surat al-Nahl: 110 disebutkan: “Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan bersabar. Sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. 

Surat al-Furqan: 52 menyatakan: “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir dan berjihadlah terhadap mereka dengan al-Qur’an dengan jihad yang besar”. Dari sini jelas bahwa jihad dalam agama Islam bersifat universal atau menyeluruh meliputi seluruh jenis kegiatan sehari-hari dan ibadah yang kita lakukan.

Oleh karena hal di atas, ada beberapa hal atau bidang yang harus kita lakukan dalam rangka berjihad di jalan Allah tanpa harus melalui pertumpahan darah, antara lain:
Jihad di bidang pendidikan
Keselamatan dan kejayaan suatu umat dimulai dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Wahyu pertama yang diturunkan Allah adalah tentang ilmu pengetahuan “iqra’ bi ismi rabbika aladzi khalaq” artinya bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan alam semesta. Dengan demikian, prioritas Rasulullah dalam membangun umat adalah dengan jihad di bidang pendidikan.

Jihad di bidang ekonomi

Wibawa dan kejayaan umat dapat mengimbangi kemajuan bangsa lain salah satunya melalui jihad di bidang ekonomi. Hal ini sangat urgen untuk membangun suatu bangsa yang bebas dari kemiskinan, kelaparan, dan semacamnya. 

Jihad di bidang ekonomi dapat dilakukan dengan membuat amal-amal usaha, membangun lapangan kerja, mengembangkan industri kecil dan semacamnya.

Jihad di bidang moral/akhlak
Sebuah bangsa bisa dikatakan berkarakter apabila individu dan kelompok yang didalamnya memiliki moral yang bagus. Tentu saja, hal yang demikian itu diperlukan jihad di bidang moral, yakni berjihad membangun moral masyarakat agar berperilaku baik dan mencegah mereka dari perilaku yang tidak baik. 

Rasulullah sendiri diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak “innama buistu li utammima makarimal akhlaq”, artinya: “Aku (Muhammad) hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak”.

Jihad di bidang kesehatan


Ada sebuah ungkapan bahwa kesehatan merupakan berkah yang paling tinggi. Tanpa kesehatan yang memadai, tentunya seseorang tidak dapat melakukan aktivitas-aktivitas di atas secara maksimal. 

Oleh karena itu, jihad dalam bidang kesehatan sangat mulia dilakukan oleh para ahli yang membidanginya. Jihad di bidang kesehatan ini dapat dilakukan melalui pembangunan pusat-pusat kesehatan, rumah sakit Islam, dan semacamnya.

Keempat jihad dalam bidang-bidang di atas hendaknya menjadi proritas kita semua yang hidup berbangsa dan bertanah air satu, tanah air Indonesia. Selain itu, tentunya masih banyak aneka macam jihad yang harus kita lakukan, misalnya jihad dalam bidang seni, budaya, olah raga, hukum, politik, persaudaraan terhadap sesama dan semacamnya. 

Sehingga dengan demikian, kita tidak hanya memaknai jihad dalam arti perang (qital) saja, walau hal itu kita akui juga terdapat dalam ajaran agama Islam ketika kita sudah dalam keadaan darurat.

Tentu saja, jihad yang telah disebutkan di atas juga dapat kita gunakan untuk menanggulangi paham radikalisme dan terorisme atas nama agama yang mengusung jihad dengan arti perang. 

Sebab bila tindakan kekerasan tersebut (seperti melakukan bom bunuh diri, membunuh jiwa-jiwa yang diharamkan Allah, saling mengkafirkan sesama, memecahbelah umat, dan semacamnya) selalu dilakukan dengan dalih jihad, maka akan banyak kerusakan-kerusakan yang ditimbulkannya. 

Ada banyak larangan dalam al-Qur’an dan al-Hadist untuk tidak serta merta melakukan jihad dengan tindakan kekerasan semacam itu, antara lain:

Larangan membunuh jiwa tanpa alasan yang benar.

Terorisme yang sangat kental dengan tindakan bom bunuh diri mendapat sorotan dari ayat al-Qur’an surat al-An’am: 151: “Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti”. 

Dalam surat al-Nisa: 93 disebutkan: “Dan siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, balasannya adalah neraka dan dia kekal di dalamnya...”

Larangan merusak harta benda, rumah, dan sarana umum

Bom bunuh diri yang dilakukan sekelompok kaum radikalis dan teroris tentu saja akan merusak harta benda, rumah, sarana umum yang telah disepakati keharamannya untuk dirusak. Dalam sebuah hadist, Rasulullah telah bersabda: “Sesungguhnya darah kalian, harta benda kalian, kehormatan kalian haram atas kalian di hari ini, bulan ini, dan negeri ini” (HR. Bukhari dan Muslim).

Larangan membuat kegelisahan dan ketakutan dalam masyarakat

Tindakan bom bunuh diri yang dilakukan terorisme telah banyak membuat kegelisahan dan ketakutan bagi masyarakat. Padahal tindakan tersebut telah dilarang oleh Rasulullah dalam sabdanya: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti sesama muslim lainnya” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh al-Baniy)

Larangan saling mengkafirkan

Kelompok teroris dan radikalis telah banyak yang mengkafirkan individu atau kelompok yang ada di luar mereka, padahal hal tersebut benar-benar mendapat larangan dari Rasulullah secara jelas dan tegas. Sabda Rasulullah: “Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya wahai kafir, maka kekafiran tersebut akan kembali kepada orang yang mengucapkannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Larangan memecahbelah umat

Kelompok teroris dan radikalis yang dalam gerakannya banyak mengkafirkan sesama agamanya tentu saja memiliki dampak memecahbelah umat Islam itu sendiri. Allah telah melarang memecahbelah umat dalam firman-Nya: “Dan berpeganglah kalian dengan tali Allah (agama), dan janganlah kalian bercerai berai...” (QS. Ali Imran: 103).

Demikianlah sedikit ulasan tentang jihad dan etika berbangsa dalam menanggulangi paham radikalisme dan terorisme atas nama agama di negeri Indonesia tercinta. Ada beberapa harapan dalam tulisan ini, mudah-mudahan kita semua terhindar dari segala kesalahan dalam melakukan jihad yang tidak sesuai dengan syariat ajaran agama Islam. Mudah-mudahan kita dapat melakukan jihad di jalan Allah laksana “srengenge”, yakni seperti matahari yang menyinari bumi dan menerangi semua makhluk Tuhan di segenap penjuru alam semesta, dengan tanpa membedakan suku, ras, budaya, agama, bangsa, dan semacamnya.[]

_________



Arif Muzayin Shofwan, merupakan pria asli kelahiran Blitar, Jawa Timur. Lelaki ini pada tahun 2013-2016 pernah tercatat sebagai anggota Tim Inti Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang dari unsur mahasiswa program doktor pendidikan agama Islam.

No comments:

Pages