Menjadi Manusia (Dalam Pandangan Aristoteles) - Srengenge Online

Breaking

loading...

Ketik tulisan yang anda cari disini

Tuesday, September 25, 2018

Menjadi Manusia (Dalam Pandangan Aristoteles)



Oleh Ahmad Fahrizal Aziz

Apa yang disebut manusia? Pertanyaan dasar ini pernah direnungkan Aristoteles, filsuf yang dasar pemikirannya sangat berpengaruh hingga kini.

Ia kemudian membuat tiga kategori mahluk hidup, yaitu tumbuhan, hewan, dan manusia. Ketiganya tentu tidak semata dilihat dari bentuk, tetapi lebih menjelaskan kekhasan masing-masing, hingga mahluk tersebut layak disebut manusia.

Aristoteles memiliki teori terkenal bernama Hilomorfisma. Hubungan materi dan bentuk, hubungan tubuh dan jiwa.

Setiap mahluk memiliki materi, berupa tubuh, dan juga sebentuk jiwa. Bagi Aristoteles, tumbuhan dan hewan juga memiliki jiwa, karena itulah ia disebut hidup. Tubuh yang kehilangan jiwanya, akan disebut mati.

Akan tetapi jiwa tidak bisa diidentifikasi, jika tidak memiliki tubuh. Barangkali ini sangat berkait dengan pendapat Plato, bahwa tubuh adalah cangkang bagi jiwa.

Tubuh membutuhkan makanan untuk terus tumbuh, berkembang dan bertahan. Karenanya, tubuh perlu asupan nutrisi.

Baik tumbuhan, hewan, dan manusia membutuhkan nutrisi untuk keberlangsungan hidupnya.

Akan tetapi, tumbuhan tidak bisa mengidentifikasi kebutuhan nutrisinya. Ia pasif. Berbeda dengan hewan, ia bisa mengidentifikasi kebutuhan nutrisinya. Hewan pemakan rumput, tidak akan memangsa daging. Begitu pun sebaliknya.

Hewan punya persepsi, yaitu kemampuan mengidentifikasi berdasar indra yang mereka miliki. Entah indra pengecap, penciuman, perasa, penglihatan dan sebagainya.

Kucing tidak akan merebut rumput yang menjadi makanan kambing. Karena kucing bisa mengidentifikasi melalui sensor penciuman mana yang menjadi makanannya.

Hewan juga bisa mempersepsi mana musuh dan kawan, kapan harus santai dan menyerang. Persepsi berdasar insting kuat dan kebiasaan.

Ada hewan-hewan yang memiliki tingkat persepsi cukup baik, mereka bisa mempersepsikan kotorannya sendiri, sehingga membuangnya di tempat tertentu dan bahkan menguruknya dengan tanah/pasir.

Ada hewan yang bisa mempersepsikan tempat tinggalnya sendiri, dengan memperhatikan unsur kelembapan udara misalkan, dan lain sebagainya.

Hal serupa juga dimiliki manusia. Hewan dan manusia punya persepsi. Bedanya, persepsi manusia sangat berkaitan dengan pikiran, yang tidak dimiliki hewan.

Pikiran inilah yang menurut Aristoteles sebagai pembeda manusia dengan mahluk hidup yang lain.

Pikiran menggerakkan manusia untuk mengetahui dan memahami sesuatu.

Ada pikiran teoritis, yang membawa manusia pada perenungan dan pemahaman. Ada pikiran praktis, yang mendasari manusia untuk bergerak dan bertindak.

Pikiran inilah yang membuat manusia tidak hanya mencari dan menempati, seperti tumbuhan dan hewan, namun juga memproduksi, mengolah, merawat, mencipta atau bisa juga justru merusak dengan sadar.

Pikiran inilah yang membuat manusia memiliki keinginan. Tumbuhan dan hewan tidak memiliki keinginan. Mereka hanya menjalankan proses hidupnya secara alamiah : makan, tidur dan beranak pinak.

Karenanya, manusia bisa lebih tenang, damai, dan teduh dari tumbuhan. Namun bisa juga lebih buas dari hewan pemangsa daging. Tergantung pikiran masing-masing. []

Blitar, 25 September 2018

Referensi bacaan :

Buku "Sejarah Filsafat Yunani dari Thales ke Aristoteles" karya Kees Bertens. (Kanisius, 1999).

Buku "The Greatest Philosopher" karya Kumara Ari Yuana (Andi Offset, 2010)

Buku "Sejarah Filsafat" karya Robert C. Solomon dan Kathleen M. Higgins (Bentang, 2000)

No comments:

follow

Pages