Prabowo Soal Uang Ngarit dan Uang Cendol - Srengenge Online

Breaking

loading...

Ketik tulisan yang anda cari disini

Wednesday, September 26, 2018

Prabowo Soal Uang Ngarit dan Uang Cendol



"Kalau di Jawa Timur namanya uang ngarit, kalau di Jawa Barat uang cendol," Ujar Prabowo, ketika mengisi public lecture di forum Soegeng Sarjadi Syndicate.

Public lecture tersebut berlangsung bulan Desember 2012, ketika Jokowi baru dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta, dan namanya belum masuk radar survei capres.

Saat itu, elektabilitas Prabowo Subianto di urutan pertama, di atas Megawati dan Jusuf Kalla.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo bercerita soal keputusan hidupnya masuk dunia politik, diawali dengan masuk partai politik dan ikut konvensi capres sebuah partai besar.

"Saya keliling kemana-mana, menyiapkan makalah tebal, membahas neraca ekspor impor dan lain sebagainya. Ujung-ujungnya ditanya, pak kongkritnya apa?" Jelas Prabowo.

Hal itulah yang membuat Prabowo gusar, bahwa Politik yang ia pelajari dalam ilmu politik, nyatanya tidak selalu sama dalam realitasnya.

"Di kampus-kampus dosen politik tidak menjelaskan apa itu serangan fajar. Padahal kalau kita tidak ngerti serangan fajar, kita tidak akan tahu realitas politik kita," Lanjutnya.

Prabowo pun menceritakan pengalamannya bertemu buruh tani, yang menggarap sawah orang lain. Sehari mereka mendapat bayaran Rp20.000.

"Bagaimana kalau dia tidak kerja sehari saja, karena harus ikut pemilu dan suruh milih kita, kalau tidak ada ganti bayarannya? Mereka mau makan apa untuk anak istri di rumah? Ya ini our people," Ungkap Prabowo.

Menurut Mantan Danjen Kopassus tersebut, secanggih apapun ilmu politik dipelajari, harus tahu juga realitas. Karena untuk menuju pada posisi politik harus melewati ralitas politik yang ada.

Sejak terjun ke politik dan kampanye ke berbagai daerah, Prabowo kemudian menemui istilah "uang ngarit" dan "uang cendol" tersebut, untuk mengistilahkan pengganti bayaran harian karena libur untuk ikut pemilu tersebut.

Ia pun mengaku sedih, namun realitas yang ada memang demikian. Butuh waktu untuk memperjuangkan demokrasi yang benar-benar ideal, namun dia meyakini bahwa demokrasi adalah sistem terbaik saat ini. []

Blitar, 27 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

_sumber foto : merdeka.com_

No comments:

follow

Pages