Amri Yahya, Senirupawan Muhammadiyah - Srengenge Online

Breaking

follow

41


Ketik tulisan yang anda cari disini

Baca Juga

Tuesday, November 20, 2018

Amri Yahya, Senirupawan Muhammadiyah



SRENGENGE.ID - Beliau termasuk yang keberatan ketika nama Majelis Kebudayaan diganti menjadi Lembaga Seni dan Budaya, atau yang kini menjadi LSBO (Lembaga Seni, Budaya, dan Olahraga).

Menurutnya, dengan menjadi sebuah majelis, maka keberadaannya tidak saja di tingkat pusat, melainkan bisa sampai ke cabang.

Ialah Prof. Dr (HC). Ki H. Amri Yahya, seorang pelukis, perupa, dan salah satu perintis dalam seni lukis batik kontempoter Indonesia, yang melahirkan banyak karya kaligrafi Islam.

Sebagian karyanya hingga kini bisa dinikmati di Amri Museum Art Galeri, Jalan Amri Yahya No. 6, Yogyakarta. Kenapa sebagian? Sebab pada 14 September 2004, museum tersebut pernah terbakar dan banyak karyanya hangus tak terselamatkan.

Selama aktif di dunia seni, Amri adalah salah satu perancang logo Muktamar Muhammadiyah, sejak muktamar 1978 di Surabaya hingga muktamar tahun 2000 di Jakarta.

Di era kepemimpinan KH. Azhar Baasyir sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah (1990-1995), Amri Yahya mejabat Wakil Ketua Majelis Kebudayaan.

Kiprahnya dalam dunia seni tak diragukan lagi. Sejak tahun 1977 menjadi anggota kehormatan International Association of Art (IAA) UNESCO Paris. Beliau juga pernah menjadi wakil Indonesia dalam Konferensi Seni Budaya Islam Dunia (1996) di Hofstra University, New York.

Selain itu beliau juga salah satu pendiri HSRI (Himpunan Senirupawan Indonesia) pada tahun 1979, dan menggelar pameran tunggal di Eropa dan kawasan Timur Tengah antara tahun 1976-1979, serta di Asean Art Museum, San Francisco pada tahun 1996.

Amri Yahya termasuk dari sedikit penggerak seni rupa Islami kala itu, bersama Ahmad Sadali, A.D Pirous, Joop Ave dan Amang Rahman. Bersama mereka pula Amri menggagas Festival Istiqlal dan mengusulkan berdirinya Bait al-Qur'an.

Amri Yahya lahir di Sukaraja, Ogan Hilir, Palembang, Sumatera selatan pada 29 September 1939 dan wafat di Yogyakarta 19 Desember 2004 pada usia 65 tahun.

Beliau memperdalam pendidikan seninya di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta pada 1963 dan Jurusan Seni Rupa, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Yogyakarta tahun 1971.

Pada tahun 1994, Amri mendapatkan gelar kehormatan dari Majelis Luhur Tamansiswa sehingga memiliki nama "Ki" di depannya. Tak hanya itu, pada 2001 Universitas Negeri Yogyakarta pun menganugrahinya gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang evaluasi Pendidikan Seni.

Dua tahun sebelum wafat, beliau dikukuhkan sebagai guru besar (Profesor)di Universitas yang sama dalam bidang seni. (Red.s)

Sumber bacaan : Ensiklopedi Muhammadiyah Jilid 1.

No comments:

loading...

Pages