Buku Dan "Kebetulan-Kebetulan" Itu - Srengenge Online

Breaking

follow

41


Ketik tulisan yang anda cari disini

Baca Juga

Friday, November 30, 2018

Buku Dan "Kebetulan-Kebetulan" Itu




Kisah ini secara lisan sudah saya paparkan dalam beberapa bedah buku "Literasi Sampai Mati", termasuk kemarin sore di Kampus Ushulludin IAIN Kediri.

Sekitar tahun 1998-an, seorang mahasiswa senior di dalam kamar kosnya membaca catatan harian Ahmad Wahib. Ia membaca sambil teriak: "Aku bukan Hatta, bukan Soekarno, bukan Sjahrir, bukan Natsir, bukan Marx, dan bukan pula yang lain-lain. Bahkan... aku bukan Wahib. Aku adalah me-Wahib. Aku mencari, dan terus menerus mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukan aku. Aku adalah meng-aku, yang terus menerus berproses menjadi aku."

Mahasiswa senior itu adalah Muhammad Abadi. Aku penasaran dengan ucapannya yang ternyata keluar dari kegiatan membaca buku itu. Ia adalah mahasiswa fakultas sastra, punya banyak buku di kamar kosnya yang berada di pinggir kali, belakang kampus. Ternyata dia juga sudah menulis, tulisannya dimuat di media massa. Kalau tak salah esai dan beberapa artikelnya dimuat di Suara Muhammadiyah.

Lalu aku mengenal Ahmad Wahib. Buku yang covernya berwarna hijau dengan tangan mengepal itu akhirnya aku cari. Buku "Pergolakan Pemikiran Islam" itu kemudian kubaca. Aku lupa apakah aku membacanya dengan meminjam di perpustakaan kampus ataukah meminjamnya dari para senior yang kebanyakan adalah aktifis persma.

Lalu aku meniru menulis buku harian. Karena kuliah di kampus FISIP (Fakultas Ilmu Santet dan Ilmu Pelet.. upss, maksudnya Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), maka akupun ingin menggunakan catatan harian sebagai sarana untuk menuliskan apa yang ingin kutuliskan.

Catatan-catatan mulai hal yang cemen, yang ketika kubaca belakangan (beberapa tahun kemudian) terasa lucu. Catatan tentang nasib diri dan keluarga. Tentang dunia perkuliahan. Hingga tentang sosial dan politik. Karena aku menyadari bahwa aku adalah mahasiswa yang konon kabarnya adalah "agent of change", kaum intelektual, maka akupun ingin menulis catatan harian yang berisi analisa kritis.

Catatan harian ini untuk meluapkan emosi, ketidakpuasan atau kegembiraan, ketika menjalani hidup sehari-hari. Tapi ingin aku legitimasi dengan teori-teori. Kalau soal cinta, misalnya, ya aku bantu dengan analisa teoritik tentang cinta. Soal cinta ini, aku menemukan karya Erich Fromm. Ia adalah nama ilmuwan sosial yang barangkali paling melekat dalam pikiranku. Buku yang berjudul "Konsep Manusia menurut Marx", terbitan Pustaka Pelajar, terjemahan dari "Marx's Conception of Man, adalah buku yang paling menggugah minatku tentang wacana Cinta.

Lalu buku Fromm yang berjudul "The Art Of Loving". Buku-buku ini membantuku mendalami relasi antar manusia maupun memahami bagaimana proses psikologis yang mungkin terjadi pada tiap orang dalam suatu hubungan. Lalu membawaku pula pada ketertarikan terhadap Marxisme.

Tahun 2003 ada lomba, tepatnya sayembara, bertema Ahmad Wahib (AHMAD WAHIB AWARD). Lomba menulis esai yang bertema pemikiran Ahmad Wahib itu diadakan oleh HMI Cabang Ciputat bersama Freedom Institute. Judul esai yang kutulis adalah "Wahib dan Marx: Basis Material Ideologi Politik Islam". Kupilih judul ini karena aku paling suka dengan catatan Wahib yang ini: "Nah andai kata hanya tangan kiri Muhammad yang memegang kitab, yaitu Alhadits, sedang tangan kanannya tidak aa wahyu Allah ( Alquran), maka dengan tegas aku berkata bahwa Karl Marx dan Frederik Engels lebih hebat dari pada utusan Tuhan itu. Otak kedua orang ituyang luar biasa dan pengabdiannya yang luar biasa pula, akan meyakinkan setiap orang bahwa krdua orang besar itu adalah pernghuni sorga tingkat pertama, berkumpul bersama para nabi dan syuhada." ( hal 98, 29 maret 1970).

Esai itu masuk salah satu dari 5 nominator yang kemudian membawaku ke Jakarta untuk diwawancarai. Pewawancaranya diantaranya adalah Hamid Basyaib, Akhmad Sahal. Lima orang yang diinterview tentang esainya ini akan dipilih salah satu pemenang yang akan mendapatkan hadiah uang Rp 30 Juta.

Pengumuman yang dilakukan di Gedung Antara itu dipandu oleh Najwa Sihab (waktu itu belum ada acara Mata Najwa). Aku kurang beruntung. Yang terpilih adalah salah seorang mahasiswa Driyakarya, kalau tak salah namanya Ajmad Jafar, seorang pemuda keturunan Arab berasal dari Situbondo.

Tapi sayembara itu merupakan momen penting bagiku, basis historis yang menyebabkan aku semakin suka menulis. Pulang dari Jakarta tetap mendapatkan "sangu". Ditambah dengan doorprice berupa buku-buku yang jumlahnya belasan (sebagian besar terbitan Freedom Institute).

Dan anehnya, dari perjalanan hidupku ini, ternyata ada keterhubungan historis antara masa lalu dengan masa selanjutnya yang kadang seakan dianggap terjadi secara kebetulan--tapi pada kenyataannya tidak. Begini. Tahun 1998 aku membaca buku Ahmad Wahib. Lalu aku melupakan buku itu. Tapi lima tahun kemudian, 2003, aku menggunakan buku itu untuk bahan nulis.

Berikutnya, tahun 2003 aku bertemu Najwa Sihab di acara malam penganugerahan Ahmad Wahib Award di Gedung Antara itu. Lalu, tahun 2011, aku diundang di acara Mata Najwa Metro TV. Gara-gara menulis buku "Perempuan di Mata Soekarno". Salah satu Tim Kreatif, menemukan buku itu di Gramedia, dan ia menelfonku untuk ditawari jadi narasumber acara Mata Najwa yang bertajuk "Perempuan Zaman". Tampil bersama mbak Ruth I Rahayu, itu adalah penampilan pertama di TV, yang mungkin juga satu-satunya dalam sejarah hidupku.

Berikutnya, salah satu buku yang diberikan sebagai doorprice oleh panitia Ahmad Wahib Award adalah berjudul "Islam Mazhab Ciputat". Dalam buku bunga rampai ini, salah satu penulisnya selain kang Akhmad Sahal, ada juga Ahmad Fuad Fanani seorang intelektual muda Muhammadiyah. Lalu 2005, saya kerja bersama mas Fuad Fanani ini sebagai peneliti di ICIP Jakarta, saat diajak pak Eby Hara untuk jadi tim riset di lembaga itu.

DARI kisah ini saya mendapatkan kesimpulan bahwa ternyata semuanya itu terjadi karena dialektika dan tak ada yang kebetulan. Sejarah tetaplah memiliki kisah di mana semua hal selalu terkait. Salah satunya adalah: Kalau saya tidak membaca buku, bagaimana saya bisa menulis. Kalau saya tak melakukan keduanya secara dalam kurun waktu yang lama, bagaimaa saya bisa berkarya dan terus berkarya dalam dunia literasi.

Membaca, Menulis, dan perjumpaan-perjumpaan dengan buku dan orang-orang adalah suatu basis bagi pembangunan budaya literasi yang cukup penting. Dulu, di pergerakan, kami mengenal siklus: BACA-AKSI-REFLEKSI... BACA-AKSI-REFLEKSI! Ada siklus lainnya yang agak sama: BERPIKIR, BEKERJA, BERPIKIR,BEKERJA. Kerja otak dan kerja fisik tak bisa dipisahkan.

Dari Kawans GMNI kita punya slogan: PEMIKI PEJUANG, PEJUANG PEMIKIR! Dari sahabat PMII kita punya slogan: DZIKIR, PIKIR, AMAL SHOLEH. Dan akhirnya dari teman HMI kita punya slogan: YAKIN USAHA SAMPAI (YAKUSA)!

(Nurani Soyomukti, Subuh hari di Kaki Gunung Jabung, Trenggalek, 28/11/2018)

No comments:

loading...

Pages