Dari “Revolusi Sampai Mati” Menjadi “Literasi Sampai Mati!” - Srengenge Online

Breaking

follow

41


Ketik tulisan yang anda cari disini

Baca Juga

Monday, November 26, 2018

Dari “Revolusi Sampai Mati” Menjadi “Literasi Sampai Mati!”



Oleh : Nurani Soyomukti


/1/
Lenin pernah berkata: Revolusi tak bisa dilakukan oleh orang-orang berkepala panas. Nyatanya gerakan revolusi mandeg ketika ide revolusi tak ada lagi di kepala karena ia hanya muncul dari amarah sesaat—pada situasi tertentu dalam fase suatu masyarakat maupun bisa jadi pada fase perkembangan individual.

Revolusi tanpa literasi ternyata tak berumur panjang. Sedangkan literasi yang berumur panjang akan merevolusi keadaan secara terus-menerus. Memberikan panduan bagi proses memahami kontradiksi yang dihadapi, membiasakan membaca aksara dan realita.

Penulis lahir dari sisa fase revolusioner yang menghantarkan era reformasi, yang lalu mandeg hingga sekarang. Era perlawanan terhadap Orde baru waktu penulis masih SMA, hingga era kuliah yang memperkenalkan pada nikmatnya tradisi membaca dan menulis. Dan kisah hidup yang mengalami proses literasi yang cukup dinamis. Keterlibatan dalam organisasi “radikal” dengan perkembangan bacaan-bacaan dan aksi-aksinya.

Lalu sampai pada fase moderasi gerakan “politik” menuju strategi gerakan literasi di masyarakat. Fase-fase mulai mengenal huruf-huruf, hingga menulis di berbagai media dan buku inilah yang banyak menghiasi kisah dan pemikiran yang disampaikan dalam buku ini.

Buku ini bisa dianggap sebagai perspektif literasi dari kemampuan menerapi diri yang dilakukan sendiri oleh penulis. Pun juga upaya menganggap dirinya ada dan sedang ingin bicara tentang dunianya, di mana di dalamnya yang ingin ditegaskan adalah bahwa dari segalanya itu ternyata kita tumbuh pesat dari proses membaca dan menulis (satu dwi-tunggal literasi yang terpenting).

/2/
Masa remaja adalah masa bergejolak dalam pencarian identitas. Gagalnya keinginan dan jarang terfasilitasinya kebutuhan, mesti disalurkan dalam aktualisasi diri yang positif. Penulis menemukan pelarian dari kondisi keluarga dan hubungan sosial yang kurang kondusif bagi terpenuhinya keinginan individual sebagai anak dan remaha usia sekolah. “Nembak cewek” gagal, puisi dan buku jadi sarana pelatiran estetis dan punya daya jangkau pada pelatihan berimajinasi yang hasilnya tidak disadari.

Secara tak langsung ini adalah buku tentang manfaat membaca dan menulis. Diawali dengan dunia baca dan tulis sebagai pelarian, lalu beranjak pada pendalaman pengetahuan, pencarian yang berdarah-darah, hingga kenikmatan yang dipetik dari proses dinamis itu: Hasil dari menulis di berbagai media dan tulisan yang diterbitkan dalam buku-buku oleh penerbit yang memberi uang yang bisa digunakan untuk memfasilitasi pemenuhan kebutuhan hidup dan memberi tekad untuk berani menikah dan berpinak.

Penulis yang sudah menikah dan punya anak sesungguhnya lengkap. Ia punya anak biologis dari pernikahan: anak-anak yang lucu dan menegaskan eksistensi kemakhlukan. Juga punya anak ideologis: judul-judul buku dan tulisan yang dinamai dan sekaligus menamai dunia. Menyebarkan gagasan dan berdialektika dengan kehidupan—ini adalah salah satu tugas profetis tiap manusia untuk mengejar kebermaknaan.

Jadi buku ini adalah kampaye membaca dan menulis. Budaya baca adalah pilar kemajuan bangsa. Dalam buku ini, penulis menguraikan kenikmatan yang bisa didapat dari membaca, juga ‘progress’ yang didapat dari tradisi literasi ini. Pengembangan diri, komunikasi menggapai tujuan (kritik, opini, persuasi, dll), profesi yang menghasilkan uang, hingga kemudahan mendapatkan peran lebih jauh dari kemampuan berliterasi.

Dialektika hidup, berkontradiksi dengan hidup, aktivitas yang dilarang, berdebat dengan dosen konservatif, diskusi-diskusi di organisasi, adalah proses pengembangan diri yang terjadi.



/3/
Pikiran kritis memang lahir dari proses bagaimana manusia berhadapan dengan realitas yang membuat pikiran dituntut untuk berpikir secara dalam dan menyeluruh—dan kadang juga ideologis kaku.

Tafsir ideologis kaku di sini diakui sendiri oleh penulis   bahwa ia yang awalnya adalah aktivis berideologi kaku yang menolak pemilu dengan cara membakar semua bendera partai politik dalam sebuah aksi tahun 2004, hingga belakangan malah menjadi pejuang pemilu dalam posisinya sebagai divisi yang bertugas melakukan sosialisasi dan pendidikan pemilih di KPU Kabupaten Trenggalek (lenyelenggara pemilu tingkat kabupaten).

Dari aktivis yang sering bentrok dengan aparat kepolisian di jalanan saat demonstrasi dan bahkan puncaknya ketika jadi buron selama empat bulan, hingga kemudian menemui takdir yang berbalik  seratus delapan puluh derajat: Menjadi “pejabat” publik di lembaga publik yang bertugas melakukan pelayanan demokrasi dan tiap moment demokrasi elektoral bernama pemilihan (Pilkada, Pileg, Pilpres) selalu bekerjasama dengan aparat kepolisian.

Apalagi jika bukan “pertaubatan”. Dan apalagi jika bukan suatu moderasi sikap—atau barangkali perubahan menuju keterbukaan pikiran. Dari yang dogmatis menjadi kritis dan demokratis. Dari mengambil taktik revolusioner kaku menjadi perjuangan transformatif yang lebih masuk ke arah pikiran kritis dalam makna sebenarnya. Dari merasa paling revolusioner sendiri dan menganggap semua di luarnya tidak revolusioner (konservatif), menjadi transformatif yang menganggap masih ada potensi untuk melakukan perjuangan lewat potensi-potensi yang lebih luas, sambil dilakukan pada saat berada dalam sistem demokrasi yang dulunya ia sebut “demokrasi borjuis”.

Dalam buku ini kita bisa melihat bagaimana dinamika literasi dalam diri penulis berkembang. Pertaubatan dari aktivis radikal yang memegang pikiran ideologis yang kaku, hingga kemudian ikut masuk sistem demokrasi yang   lebih rasional untuk diperjuangkan. Sepertinya penulis kemudian menawarkan pilihan: Apa jika bukan demokrasi lewat pemilu? Demokrasi komunis dan Khilafah yang tidak menginginkan demokrasi itu sendiri?

Lalu penulis menguraikan berbagai evolusi pemikiran bersamaan perubahan-perubahan peran. Sebagai sebuah buku yang dimaksudkan untuk memotret aspek literasi, buku ini menyuguhkan bagaimana pentingnya tradisi membaca dan menulis sebagai budaya yang harus dijaga. Keterlibatan penulis dalam aksi-aksi literasi sejak sekolah hingga ia pulang kampung tetap menjadi kisah utama buku ini. Mulai dari pertama kali “jatuh cinta” pada buku, hingga menjadi penulis banyak judul buku dan memetik peran sosial yang cukup partisipatif dari kedalamannya menerjuni danau Literasi.

Pesan dalam buku ini adalah: Membaca dan menulis adalah jalan progresif yang harus dilalui oleh siapapun yang ingin menjadi subjek indenden dalam kehidupan. Jalan membaca buku dan menulis adalah jalan menjadi manusia yang ingin mendapatkan pencerahan dan kontrol terhadap dunianya, bukan objek penindasan sistem budaya yang hanya menyuruh orang untuk meniru semata.

/4/
Berikutnya adalah tentang menulis sebagai salah  satu budaya produktif. Almarhum Pramoedya Ananta Toer selalu berpesan bahwa kita harus menulis apa saja yang dapat kita tulis karena suatu saat pasti berguna. Menulis adalah salah satu pekerjaan memanfaatkan bahasa untuk mengungkapkan gagasan atau kisah kehidupan. Lebih jauh, menulis adalah kegiatan mengeksplorasi bahasa menjadi kekuatan untuk menggambarkan realitas.

Banyak orang mengatakan bahwa menulis adalah kegiatan orang malas atau orang yang tak berani menghadapi realitas. Anggapan tidak sepenuhnya benar. Hasil dari kegiatan menulis bahkan dapat menjadi kekuatan yang merubah sejarah kehidupan. Dengan menulis perubahan dihasilkan. Diakui atau tidak, Indonesia telah mengalami perubahan besar, terutama masyarakatnya mengalami pencerahan, sejak budaya baca-tulis diperkenalkan oleh Belanda. Selama berabad-abad, di bawah kekuasaan feodal (kerajaan) yang menindas, masyarakat didominasi oleh budaya oral. Kepercayaan dan wacana yang mendukung kekuasaan diproduksi dan direproduksi melalui dongeng. Kemampuan menulis dan membaca hanya dimiliki oleh kalangan istana, dan itupun  digunakan untuk menuliskan kisah-kisah yang melanggengkan kekuasaan dan membodohi rakyat.

Dalam hal inilah, penulis dalam buku ini  mengatakan bahwa menulis adalah kegiatan yang mampu menghasilkan kekuatan produktif sejarah masyarakat. Menulis adalah bagian dari kebudayaan yang produktif.  Budaya dalam hal ini adalah sekian potensi dan hasil dari manusia dalam menggunakan rasa, karsa, dan pikirannya. Akan tetapi umumnya oleh banyak kalangan dipahami bahwa budaya hanya berkaitan dengan aspek seni dan gaya hidup. Pada hal budaya mencakup keseluruhan manusia dalam membudi dan mendayakan dirinya dalam kehidupan, yang secara mendasar adalah cara-cara manusia dalam menghadapi alam dalam upayanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan mengembangkan hidupnya. Menulis adalah kegiatan yang memproduksi dan mencari makna.

/5/
Menulis adalah kegiatan manusia yang dikenal sebagai mahkluk yang berbudaya. Mendayakan diri berarti menyiapkan kondisinya agar kuat baik dalam berhubungan sosial maupun menghadapi kontradiksi dengan alam dan dengan orang lain.  Majunya suatu kebudayaan akan ditentukan oleh sejauh mana masyarakat mengenal tulisan, membaca dan menulis. Makanya, alangkah mundurnya kebudayaan kita ketika  saat ini masih banyak rakyat yang buta huruf (illiterate) dan pada saat yang sama budaya baca-tulis kita juga masih ketinggalan jauh dengan Negara-negara lain.

Bagi yang sudah melek hurufpun, sebagian masyarakat kita juga melum dapat membaca dan menggunakan bahasa secara benar dalam konteks memanfaatkan bahasa untuk memaknai kehidupan dan memajukan peradabannya. Apa yang terjadi di negara kita saat ini masih  mirip dengan apa yang diceritakan oleh cerpenis kenamaan negeri ini, Seno Gumiro Ajidarma, ketika ia mengucapkan pidato penerimaan Hadiah  Sastra Asia Tenggara di Bangkok beberapa tahun lalu. Ia mengucapkan, “… Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca hanya untuk mengetahui harga-harga, membaca hanya untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepakbola, memcaba  karena ingin tahu berapa persen discount obral besar di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca sub-title opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekedar hiburan…

Dalam situasi inilah, budaya menulis harus disosialisasikan pada masyarakat, terutama generasi muda. Generasi muda tidak boleh hanya menjalani budaya  yang dikendalikan oleh pemilik modal yang hanya membuat mereka hanya meniru, mengkonsumsi, dan menghabiskan waktu untuk kegiatan yang tidak produktif dan kreatif. Generasi muda harus diarahkan agar dapat mengenali dunianya dan menghasilkan suatu hal yang berguna bagi masyarakatnya.

Budaya  menulis akan banyak membantu mereka untuk menuangkan gagasannya secara kreatif. Budaya membaca yang merupakan syarat bagi setiap orang yang melakukan kegiatan menulis akan banyak menyeret mereka pada ilmu pengetahuan dan imajinasi yang kreatif, dan  pada akhirnya mereka akan menemukan pilihan hidup dan tidak  sekedar untuk  hidup atas diktum budaya pasar. Mereka bahkan bisa jadi kekuatan masa depan yang merubah dunia menuju perbaikan yang berpihak pada kemanusiaan.

/6/
Kerja macam apakah “menulis” itu? Dan profesi apakah ‘penulis’ itu? Apakah peradaban tak bisa berjalan tanpa hadirnya  para penulis?

Pertanyaan semacam itu layak dilontarkan karena sejauh mana sebenarnya peran penulis bagi kebudayaan nampaknya perlu diketahui. Penulis merupakan profesi yang sepanjang sejarah nampaknya begitu  dimuliakan oleh banyak orang. Dengan menulis orang tak hanya mendapatkan ketenaran dan uang, tetapi juga status.

Nampaknya kata-kata masih dianggap sesuatu yang masih mistik dan siapa yang mampu memungutnya dan menyusunnya menjadi makna dan penjelasan yang kuat terhadap realitas. Seakan bagai para dukun kuno dan pujangga jaman kerajaan yang dianggap menemukan kata-kata begitu saja untuk memberikan petuah-petuah dan kisah-kisah indah dalam masyarakat, menyampaikan estetika cerita tentang kebesaran raja dan arahan-arahan yang harus dilakukan oleh masyarakatnya. Pada era feudal (kerajaan), penulis juga dianggap sebuah profesi yang banyak diinginkan, seiring dengan obsesi banyak orang untuk menganggap bahwa profesi pemikir dan penulis adalah identik dengan ‘etos’ kebangsawanan  pada saat kerja-kerja fisik identik dengan kerja kaum budak dan rakyat jelata—yang dianggap menjijikkan.

Kutipan berikut berasal dari teks Mesir yang dikenal sebagai The Satire on the Traders, yang ditulis sekitar tahun 2000 SM dan diperkirakan berisi nasehat dari seorang ayah kepada anaknya, yang ia kirim ke Sekolah Menulis untuk berlatih menjadi seorang juru tulis: "Saya telah melihat bagaimana seorang pekerja kasar disuruh untuk bekerja kasar—kamu harus mengeraskan hati kamu dalam mempelajari tulisan. Dan saya telah mengamati bagaimana seseorang dapat menghindari pekerjaannya. Lihatlah, tidak sesuatupun yang dapat melebihi tulisan…. Saya telah melihat bagaimana seorang pandai besi bekerja di depan mulut tungku apinya. Jari-jarinya menjadi mirip jari-jari buaya; batu tubuhnya melebihi bau seekor ikan busuk….Seorang kuli pembangun rumah mengusung lumpur…. Ia lebih kotor dari seorang gelandangan atau babi karena ia mengarungi lumpur. Bajunya kaku karena dilumuri tanah liat….

Tiba di jaman modern, peradaban kita nampaknya terlanjur lebih menghargai  aktifitas gampangan yang tak membutuhkan kerja keras (fisik) sebagai tindakan kerja sejati dalam makna berhadapan dengan realitas dan benda-benda yang ada di alam lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna. Orang-orang yang malas kerja dan lebih banyak memiliki waktu luang, atau kerja ringan dan santai, lebih bisa menikmati  kekayaan yang melimpah. Dan penulis adalah salah satu profesi yang tak jarang mendapatkan  uang berlimpah dari kata-kata yang ditulis dan dijualnya.

Sejak awal, ada seorang sosiolog melontarkan kritik pedas atas gejala kebudayaan santai, yang merongrong kebudayaan Amerika Serikat (AS). Sosiolog tersebut bernama Thorsten Veblen (1857-1929). Dalam bukunya yang berjudul “The Theory of the Leisure Class” ia merasa jijik dengan budaya kolektif pada kelas yang malas bekerja tetapi menghabiskan banyak waktu senggang dan menjalani gaya hidup yang bebas. Mereka adalah kelas non-produktif, karena mampu mengumpulkan modal dalam dorongan pembajakan (predatory instinct). “The Leissure Class” atau kelas pemboros ini berminat pada urusan kerja santai dalam waktu luang, manajemen (mengurus orang lain, kelompok pekerja lapangan atau pelaksana teknis), atau berperang (militer, angkatan bersenjata), mengurus upacara keagamaan (kaum ulama), atau berolahraga.

Sebagai sosiolog kritis, Veblen nampaknya begitu membenci para penjual kata-kata indah, pemalas, spekulan, makelar, cukong, lintah-darat, plutokrat, birokrat, dan kaum manipulator, yang mengerumuni kota-kota besar Amerika waktu itu. Didorong oleh instink penyamun atau pembajak, mereka berusaha memperkaya diri tanpa kerja produktif, sibuk memajukan pelbagai pengetahuan yang tidak relevan dengan keadaan yang nyata, memamerkan gengsi dari dalam budi bahasa halus dan etiket eksklusif untuk memikat perhatian kelas bawah—tetapi pada saat tertentu juga bisa menjadi agresif dan galak serta mampu menggunakan cara-cara yang kotor, keras, dan korup untuk mencapai tujuannya.

Dari kelas  ‘pemboros’ dan ‘pemalas’ ini tercipta gaya hidup liberal, bohemian, snobisme, mode-mode yang meledak dan hilang dalam sekejab, lagu dan novel pop, selera eksklusif. Merekalah pencipta kebudayaan kota yang belakangan membawa dampak besar pada kebudayaan desa. Dengan singkat kata, Veblen lebih menghargai manusia kerja (homo faber) karena menurut dia kebudayaan kerja (workmanship) memunculkan sosialitas manusia yang paling nyata.

/7/
Ketika penulis dan kebanyakan kaum intelektual yang memproduksi kata-kata  merasa dirinya eksis hanya karena kata-kata dan pembicaraannya didengar oleh audiens di sebuah ruang kuliah, ceramah, atau seminar, atau kata-kata yang dibaca melalui buku, koran, majalah, atau tabloid, sejauh apakah hal itu akan berguna bagi perubahan kesadaran dan kemajuan masyarakat? 

Penyair Wiji Thukul begitu apatis dengan posisi intelektual dan penulis hingga ia pernah menyindir dalam puisinya: "... dunia bergerak bukan karena/omongan para pembicara dalam ruang/seminar yang ucapnya dimuat/di halaman surat-kabar/mungkin pembaca terkagum-kagum/tapi dunia tak bergerak setelah surat-kabar itu dilipat."

Apakah penulis  selalu merupakan salah satu kalangan yang disebut Veblen dan Thukul  tersebut?

Dalam buku ini, penulis menegaskan bahwa tidak semua penulis memiliki sikap anti-sosial semacam itu. Indonesia pernah punya Romo Mangun yang terjun langsung ke daerah perkampungan kumuh dan mengintegrasikan diri dengan realitas kehidupan sosial-budaya masyarakat. W.S. Rendra, Widji Thukul, dan masih banyak lagi, adalah contoh para penulis yang mau mengintegrasikan diri dengan kehidupan rakyat dan, karenanya, mereka mampu dan mau menangkap tuntutan jaman, tuntutan perubahan.

Kecenderungan individualistis penulis nampaknya terungkap dari fakta bahwa kegiatan menulis bukanlah kerja produktif secara fisik yang menghasilkan sosialitas sejati dalam kehidupan. Kerja fisik membuat orang saling bersatu dan berkumpul, seperti para petani yang “guyub-rukun” dan kaum buruh yang terkonsentrasi massal dalam pabrik, atau rakyat jelata yang hidup bersama menjalani aktivitas hari-harinya. Sedangkan sekarang ini kebanyakan  penulis hanya duduk di belakang meja atau berdehem di depan note book mereka menyusun kata-kata yang akan dijual pada penerbit atau media, agar terkenal atau mendapatkan sejumlah uang yang dapat membiayai gaya hidupnya yang bebas.

Pada hal mereka dituntut untuk membalas jasa-jasa sejarah, sejarah masyarakat kontradiktif yang membawa banyak persoalan kehidupan (terutama kemiskinan dan pemiskinan/penindasan). Mereka dituntut tak hanya menggoreskan kata-kata indah untuk menggambarkan kehidupannya sendiri, pengalaman seksulitas dan cinta mereka sendiri. Mereka seharusnya mampu dan mau menyuarakan dan menangkap nasib rakyat miskin, menggambarkan secara estetik dan detail bagaimana rakyat miskin ditindas (sebab dan akibatnya), serta mengumandangkan pesan dalam tulisan-tulisannya bahwa kondisi semacam itu harus diubah.

Dan itupun belum cukup. Karena, seperti dilakukan Romo Mangun, Rendra, dan Thukul, para penulis harus terjun langsung di masyarakat bahkan turut serta pada saat mereka menyampaikan tuntutan-tuntutan pada penguasa yang menyebarkan angkara dan melahirkan derita. Penulis semacam inilah yang akan tercatat dalam sejarah kebudayaan, karena kebudayaan adalah gerak maju dari tuntutan sejarah masyarakat untuk melepaskan dirinya dari penindasan, menuju  muara sejatinya sejarah: Kemanusiaan dan Keadilan!***









No comments:

loading...

Pages