Dinamika Dan Pertumbuhan Individu Dalam Dinamika Organisasi (Komunitas) - Srengenge Online

Breaking

follow

41


Ketik tulisan yang anda cari disini

Baca Juga

Monday, December 3, 2018

Dinamika Dan Pertumbuhan Individu Dalam Dinamika Organisasi (Komunitas)




Selamat pagi, kaum aktivis. Ini cerita gerimis pada tanah basah pagi ini! Sejak langit tertutup mendung dan musim mulai berganti, mohon disimak tulisan yang agak gak penting ini.

Jadi begini. Organisasi adalah sarana untuk mengolektivasi individu menjadi kekuatan yang dikontribusikan untuk kepentingan bersama (tujuan kolektif). Jika diantara anggotamu yang mulai sulit dikordinasi, tidak aktif, dan tidak mau menuruti visi-misi organisasi, tak usah disumpah serapahi. Mungkin ada yang salah secara mendasar pada caramu memimpin dan membangun budaya organisasi. Lagian, ngapain hujan-hujan begini marah dan bikin sumpah serapah!

Mari kita bahas lebih panjang. Orang yang masuk organisasi atau komunitas, baik yang formal atau ketat maupun yang longgar dan cair, pasti punya motivasi yang berbeda-beda. Sejarah masuknya juga tidak sama. Ada yang punya minat serius ingin belajar mendalami visi-misi komunitas dan ingin bersama mewujudkan tujuan komunitas. Ada pula yang masuk karena tujuan lain atau masuk karena sebab lain.

Seorang yang bahkan masuknya tak sengaja, misal diajak temannya dan malahan tidak tahu kalau ia akan diajak ke situ, bisa jadi justru tumbuh menjadi anggota atau aktivis komunitas yang lebih maju dari yang lainnya yang bahkan awalnya punya niat yang serius. Pun sebaliknya, yang awalnya serius masuk komunitas, bisa jadi belakangan malah mengecewakan, dan bahkan bisa jadi duri dalam daging yang menghambat berjalannya kegiatan komunitas.

Terutama komunitas yang di dalamnya ada anak-anak muda dan remaja. Di mana masa pencarian identitas diri dan pencarian aktualisasi diri bisa membuatnya memiliki minat dan karakter yang bisa berubah. Dinamika libidinal yang sedang menuju kematangan, misalnya, bisa jadi membuatnya tertarik pada lawan jenis dan organisasi akhirnya bisa jadi tempat yang potensial untuk mencari "gebetan" [sic!].

Mungkin di antara kalian yang pernah menggeluti organisasi, terutama waktu mahasiswa dulu, punya pengalaman seperti ini: Kamu telah mengorganisir mahasiswa baru agar bergabung dengan organisasimu. Lalu kamu menemukan calon kader yang maju, pikirannya, aktivitasnya, cekatan dan tampaknya akan menjadi kader organisasi yang diandalkan. Calon kader ini adalah seorang gadis cantik berkerudung, adalah mantan ketua OSIS di sebuah sekolah di yayasan Islam (Pondok Pesantren).

Kamu mengharapkan gadis inilah yang nantinya akan menjadi salah satu kader hebat yang akan memperkuat organisasi dan memperbesar pengaruh organisasimu. Setelah ia kamu rekrut dan bahkan kamu bai'at, iapun mulai aktif di organisasi. Tapi ada dinamika organisasi di mana saat pengurus dan anggotanya berkumpul, tidak selalu bicara kepentingan organisasi. Mereka, para aktivis itu, juga merupakan manusia biasa yang juga punya (salah satunya) naluri libidinal.

Singkat cerita, si gadis yang kamu anggap progresif itu kemudian dipacari sama seniornya yang kebetulan teman organisasimu juga. Dan kamu tahu, pacaran adalah urusan libidinal yang melenakan. Pacaran butuh berdua, tidak butuh rame-rame. Keduanya lalu sering berdua dan sering pula tak ikut kegiatan-kegiatan organisasi.

Singkat cerita, calon kader yang kamu anggap terbaik itu ternyata juga menemukan dinamika lain. Banyak yang ingin merebut hatinya karena selain ia cerdas, ia punya kecantikan yang membuat para aktivis lelaki ingin "memiliki"-nya. Ingin memprivatisasinya. Aset kolektif (komunal) organisasi telah diprivatisasi oleh seorang kader senior yang bahkan juga akhirnya tak aktif di organisasi.

Meski demikian, organisasi tetap bisa berjalan. Sebab urusan privatisasi cinta atau eksklusivisme hubungan yang ada di organisasi bukan satu-satunya faktor penghambat organisasi. Meskipun kadang urusan cinta ini bisa menjadi masalah besar. Misal ada pengurus level atas organisasi yang berkelahi gara-gara berebut kader tercantik. Lalu masalah personal melebar jadi masalah organisasional. Amit-amit, mudah-mudahan hal ini tak banyak terjadi.

Memang harus kita akui. Seingat saya mengingat era mahasiswa, motif-motif orang masuk organisasi itu memang bermacam-macam. Motif awal bisa jadi berubah. Tujuan awal bisa berbelok. Di sini tetap diperlukan penguatan marwah organisasi. Bagaimana agar organisasi bisa menjawab kebutuhan-kebutuhan organisasional, ideologis, dan besar bersama peran sosialnya, saya kira harus ada niat besar dari organisernya.

Harus ada upaya untuk menjaga agar organisasi atau komunitas tetap bisa menjalankan fungsi organisasional dan mewujudkan tujuannya. Kisah-kisah tentang kepentingan individu memang bagian yang tak terpisahkan dari dinamika organisasi. Sebab, organisasi memang terdiri dari individu-individu. Mereka diikat dalam tujuan, program, dan pembagian tugas bersama. Kisah-kisah tentang pacaran sesama anggota organisasi, misalnya, sebenarnya bukan masalah pokok yang selalu menghambat jalannya organisasi.

Mahasiswa yang awalnya masuk oganisasi karena di organisasi yang ingin diikuti ceweknya cantik-cantik, atau mahasiswi yang melihat di organisasi cowoknya keren-keren, belum tentu akan menjadikannya kaum muda-mudi yang akhirnya jatuh karena cinta. Motivasi awal hanyalah daya tarik pertama. Selanjutnya, mereka akan berproses dan memahami dirinya dan mengendalikan dinamika. Apalagi ketika mereka masuk dan mendalami ideologi organisasi, serta kegiatan organisasi yang bisa merubah cara pandang mereka tentang hidup, relasi, minat, dan cita-cita.

*
(Nurani Soyomukti, 04/12/2018)

No comments:

loading...

Pages